Rabu, 01 Juni 2011

MAKAN SIANG TERBURUK


Ini adalah pengalaman saya untuk yang kedua kalinya bertemu dengan orang-orang berkewarganegaraan German. Waktu itu saya beserta Tante saya diundang untuk makan siang di rumah teman dari Tante saya. Rumah itu ditinggali oleh satu keluarga yang berasal dari German namun mereka telah tinggal di Indonesia selama kurang lebih 2 minggu. Tante saya sudah berjanji bahwa kami akan pergi membeli bunga bersama-sama sebagai hadiah bagi keluarga tersebut pada pagi harinya. Tiba-tiba, pagi hari pada tanggal kami diundang tersebut, Tante saya mendadak telepon dan membawa kabar buruk-bagi saya-, “Nik, Kubo (tante) nggak bisa datang ke rumah Michael.. Jadi kamu datang sendiri ke sana naik taxi ya..“. Saya benar-benar sangat bingung, “Lho Kubo, terus beli bunganya yapa? Aku bingung mau beli bunga apa ini.. Aduh..“. Namun Tante saya sangat tergesa-gesa dan hanya menjawab, “Terserah kamu aja wes.. Pake duitmu dulu, nanti Kubo ganti..“ dan langsung menutup teleponnya.
 Setelah berhasil membeli bunga, saya sesegera mungkin menuju rumah keluarga terebut. Namun yang terjadi adalah, jalanan sangat macet karena terjadi kecelakaan mobil. Karena saya tidak punya nomor dari Mr. Michael, saya hanya bisa terus-terusan panik di dalam taxi. Sesampainya di rumah tersebut, ternyata saya sudah telat selama kurang lebih 45 menit. Dengan sedikit canggung, saya langsung memasang senyum terbaik saya sambil memberikan bunga lily putih yang sengaja saya beli. Saya memilih lily putih dengan alasan yang sangat simpel, yaitu karena saya menyukai bunga lily. Saya terus memperhatikan Mr. Michael dan istrinya yang menyambut saya, dan yang saya dapati adalah, mereka berdua tersenyum dengan sangat canggung, lalu mempersilahkan saya masuk.
Saat itu meja makan beserta hidangan telah tersedia lengkap dan mereka pun mempersilahkan saya duduk. Pada saat itu gelas di depan saya kosong, maka Mr. Michael memanggil pembantunya untuk membawakan saya juice jeruk. Seperti kebiasaan saya, akhirnya secara tidak sadar saya bertopang dagu di atas meja sebagai indikasi bahwa saya sedang menunggu. Melihat perilaku saya, istri Mr. Michael mengamati saya sejenak, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke makanan. Saya sadar bahwa tindakan saya salah, maka saya cepat-cepat menurunkan siku saya dari meja dan menunduk. Beberapa saat kemudian, saya dipersilahkan untuk makan. Waktu itu menunya adalah salad segar. Isinya sangat lengkap mulai dari selada air sampai buah melon. Karena saya tidak suka selada air, untuk menghargai mereka, saya akhirnya tetap memakan selada tersebut namun dengan cara dipotong kecil-kil terlebih dahulu. Namun sekali lagi saya merasa mendapat tatapan aneh dari istri Mr. Michael. Akhirnya sisa dari waktu makan siang saya habiskan dengan hanya terdiam dan berkonsentrasi menghabiskan makanan saya.
Setelah tiba di rumah, saya cepat-cepat menelepon Tante dan menceritakan semuanya. Saya sangat terkejut ketika mendapat penjelasan bahwa ternyata ada peraturan etika yang menyatakan bahwa jangan pernah memberi bunga lily sebagai hadiah kepada orang German, karena itu adalah simbol dari penguburan atau pemakaman. Kedua, ketepatan waktu adalah hal yang sangat penting bagi orang German, dan saya rupanya melupakan hal itu (kejadian pertemuan pertama dengan orang German di Hotel Tugu). Ketiga, jangan meletakkan siku di meja makan karena dianggap tidak sopan, dan saya melakukannya. Keempat, German mempunyai table manner yang unik untuk tidak memotong selada air yang ada di dalam salad, namun kita harus melipat atau menggulungnya menggunakan garpu dan pisau. Sekarang saya tersdar bahwa saya benar-benar harus banyak belajar mengenai budaya negara lain agar tidak terjadi lagi hal-hal memalukan yang juga dapat menyinggung perasaan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar