Perbedaan budaya pasti terjadi di setiap liku kehidupan kita. Adapun perbedaan budaya yanga saya alami yakni mengenai perbedaan budaya dalam ras. Pada awalnya, sejak kecil sampai beranjak remaja ini, saya diajarkan oleh orang tua saya untuk memberi toleransi terhadap perbedaan budaya yang ada, terutama dalam perbedaan ras. Saya menyadari ras saya yakni ras China adalah kaum minoritas di negara ini. Sejak saya sekolah, teman-teman saya mayoritas berbeda ras dengan saya. Kebanaykan dari mereka adalah ras Jawa. Saya merasa nyaman saja dengan mereka, juga keluarga saya mengajarkan kepada saya untuk tidak pilih kasih dalam berteman. Setelah bertahun-tahun saya tinggal di lingkungan yang mayoritas beda ras dengan saya, saya tetap mengalami diskriminasi. Bukan saya saja, namun teman-teman saya yang ras China juga mengalami peristiwa yang sama dengan saya. Contohnya, di lingkungan rumah saya, ketika saya keluar jalan-jalan sekitar rumah saya bersama teman teman saya, seringkali saya mendapati suatu sindiran atau ejekan yang tidak berkenan “cino..cino..mayak kabeh..opo rapah..orenga padeh bei..hokh..” yang artinya : orang China itu semuanya menyebalkan..payah..!
Saya merasa tersinggung. Kadang saya merasa minder dengan olokan itu setiap kali ketemu. Kadang juga takut untuk keluar rumah. Padahal saya merasa tidak pernah mengusik atau mengganggu mereka. Karena saya menyadari perbedaan budaya ini membutuhkan toleransi. Contoh lain, ketika mama saya dan saya berbelanja ke pasar. Ketika kami bertransaksi, saya dan mama saya dikenai harga tinggi. Sedangkan pembeli sebelum kami yang ras Jawa mendapati harga murah. Padahal barang yang dibeli sama kuantitas dan kualitasnya. Besoknya, mama mencoba menyuruh pembantu kami yang adalah ras Jawa untuk berbelanja barang yang sama dengan kuantitas yang sama. Dan, ternyata, pembantu saya dikenai harga murah. Mama saya bertanya, “mbak kenapa ya kalo saya yang belanja dapatnya harga mahal mulu meskipun sudah saya tawar?” mbak saya menjawab “ maklum cik, tacik kan kaum kulit Putih, yang selalu dapat stereotip ekonomi golongan menengah ke atas, jadi ya cenderung dikasi harga lebih mahal daripada konsumen ras Jawa. Hehe.. “
Saya dan mama saya cuma geleng –geleng kepala. Mama saya menjawab “ lha wong ya ndak mesti mbak, kaum kulit putih ato China sugih kabeh. Ono-ono wae.. semuane ya sama wae lho mbak ada golongan menengah ke atas maupun sebaliknya.. “ Dan peristiwa itu selalu terjadi untuk kaum China, dimana kami menjadi korban stereotip negative dan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Ya inilah kenyataan yang sulit saya terima namun harus saya coba saya terima selama saya menyandang ras China yang kurang mendapati stereotip positif dari ras mayoritas, ras Jawa. Terlebih negara Indonesia adalah negara yang multicultural. Namun, saya tidak membenci mereka yang ras Jawa. Karena bagi saya mereka adalah ciptaan Tuhan juga. Silsilah keluarga Tuhan juga berbeda-beda dalam ras. Semua sama, mungkin ada dari mereka (ras Jawa) yang didasarkan dengan rasa iri kepada ras kami sehingga terjadilah stereotip dan diskriminasi. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dahulu antara ras China dengan ras Jawa. Hingga dampaknya diberikan pada generasi selanjutnya sampai sekarang. Menurut informasi artikel di google, diskriminasi kebanyakan terjadi korbannya ras China, dikarenakan banyak factor, ada yang menyatakan faktor rasa iri akan keunggulan ras lain, ada juga pernyataan lain :kesenjangan ekonomi, ada juga pernyataan mengenai sejarah perbedaan agama; dimana ras China banyak menganut Kristen dan ras Jawa menganut Islam, yang masing-masing memiliki ajaran berbeda di dalamnya.
Entahlah, pernyataan mana yang benar. Yang jelas, saya sebagai ras China, hanya bingung dan minder sebagai kaum minoritas di Negara ini, terlebih mendapati diskriminasi terus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar