Sabtu, 04 Juni 2011

Perbedaan Bahasa ‘Bakso’

Setiap daerah mempunyai budaya bahasa yang berbeda – beda. Namun, perbedaan ini akan menimbulkan masalah apabila perbedaan ini dipertemukan. Kao ini saya akan menceritakan satu pengalaman pribadi saya tentang perbedaan budaya bahasa di dua daerah yang dipertemukan
Saya mempunyai teman bernama Agnes. Agnes berasal dari luar pulau, yaitu Makasar. Pada suatu siang yang panas, saya beserta teman – teman saya ( termasuk Agnes ) memutuskan untuk makan bakso yang terletak di luar kampus. Setelah kami berjalan kaki dan sampai di warung bakso, kami memesan bakso pada ibu penjual bakso. Warung tersebut menyediakan berbagai macam isi bakso, ada tahu, siomay, bakso halus, dan bakso kasar ( bakso dengan banyak urat ). Setelah kami makan, kami menuju ke ibu penjual bakso untuk membayar. Saat itu, Agnes dengan lantang berkata kepada ibu penjual, “Bu, punya saya yang hitam dua. Nggak pake yang putih.” . Si ibu penjual pun bingung dan berkata, “Apanya yang hitam?”. Saya dan teman – teman pun tertawa terbahak – bahak mendengar perkataan Agnes. Si ibu penjual pun juga tersenyum dan itu membuat Agnes malu. Setelah itu, kami kembali berjalan menuju kampus. Saat perjalanan, Agnes bercerita bahwa di Makasar bakso yang halus disebut dengan putih dan bakso yang kasar disebut dengan hitam. Setelah Agnes menceritakan hal itu, barulah kami mengerti apa arti dari perkataan Agnes di warung bakso tersebut. Saya juga bertanya mengapa orang Makassar biasa menyebut bakso hitam dan putih. Agnes menjawab mungkin karena bakso kasar / urat lebih berwarna hitam sedangkan bakso halus lebih berwarna putih daripada bakso kasar.
Pengalaman pribadi saya ini dengan jelas menunjukkan perbedaan budaya dalam hal bahasa antara budaya Surabaya dan budaya Makasar. Di Surabaya, kita biasa menyebut ‘bakso kasar’ dan ‘bakso halus’. Tetapi, di Makasar ‘bakso kasar’dan ‘bakso halus; disebut berbeda. Penduduk Makasar biasa menyebut ‘bakso hitam’ dan ‘bakso putih’. Jika perbedaan bahasa antara dua kota ini dipertemukan, hasilnya adalah masalah. Seperti misalnya Agnes yang mengucapkan kebiasaannya mengatakan ‘bakso hitam’ dan ‘bakso putih’ di Surabaya, yang akhirnya di tertawakan oleh penduduk Surabaya. Hal yang sama juga akan terjadi jika penduduk Surabaya mengucapkan kebiasaannya mengatakan ‘bakso kasar’ dan ‘bakso halus’ di Makasar, sebab Agnes bercerita bahwa hal itu pernah tarjadi dan penduduk Makasar pun menertawainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar