Kejadian ini terjadi ketika saya duduk di selasar gedung B untuk mengerjakan tugas presentasi salah satu mata kuliah saya. Saya duduk didekat ILC ( International Language Centre) sambil menunggu ruangan itu dibuka karena memang saya butuh beberapa majalah yang disediakan disana sebagai referensi. Beberapa saat kemudian, seorang siswi asing datang dan melihat ILC, dia menengok jam tangannya, mengerutkan kening, lalu pergi. Setelah siswi ini pergi, saya mencoba melihat kertas yang ditempel di depan pintu ILC tersebut. Disitu tertulis bahwa ILC buka pukul sembilan pagi, tetapi ketika saya menengok jam tangan saya, saya menemukan bahwa pada waktu itu sudah pukul sepuluh pagi dan ruangan itu masih saja tutup. Walaupun sadar akan keterlambatan itu, saya tetap menunggu hingga penjaga ruangan itu membuka tempat layanan mahasiswa itu.
Dari kejadian ini, saya menyadari bahwa memang orang luar negeri, terutama orang-orang dari barat, sangat menghargai waktu. Bagi mereka, waktu itu seperti garis lurus yang selalu berjalan dan tidak dapat kembali lagi. Orang-orang barat juga tidak pernah membuang waktu dengan sia-sia seperti dalam slogannya yang berbunyi “Time is Money”. Kebanyakan dari orang barat selalu fokus bekerja dari senin hingga jumat, dan baru akan bersantai di hari sabtu, minggu, ataupun di hari libur lainnya. Dalam hal bersantai, mereka memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca, mengikuti kursus bahasa, ataupun lembur untuk mendapatkan gaji bonus. Dan apabila mereka benar-benar merasa letih, mereka biasanya memilih untuk liburan ke banyak tempat seperti Asia, untuk memelajari hal-hal baru, ataupun kebudayaan yang ada di tempat itu. Bagi masyarakat barat, waktu luang bisa diisi dengan hal-hal yang berguna. Keteraturan dan pemanfaatan waktu yang baik ini juga tercermin dalam pelayanan umum dan transportasi. Saya mendengar dari kakak sepupu saya yang ada di luar negeri bahwa transportasi yang ada disana, seperti trem maupun bis, sangat tepat waktu, dan tidak seperti jadwal transportasi yang kacau di Indonesia. Kakak saya juga bercerita bahwa pelayanan umum, seperti perpustakaan, buka tepat dengan waktu yang tertera di papapm pengumumannya.
Hal ini sangat berbeda dengan budaya orang asia, terutama Indonesia, yang melihat waktu seperti lingkaran, yang akan berulang, dan akan kembali di tempat yang sama. Banyak masyarakat Indonesia yang membuang waktunya dengan percuma, seperti saya. Ketika liburan, saya memilih untuk jalan-jalan ke mall untuk membeli baju, ataupun barang-barang yang sebenarnya tidak penting bagi saya, tidur, membaca komik, dan bermalas-malasan di rumah. Bahkan disaat hari kuliah pun, saya masih sempat jalan-jalan, ataupun menghabisakan waktu dengan surfing di internet. Dalam mengerjakan sesuatu, orang Indonesia terkesan lambat, asal semua tujuan tercapai. Hal ini dapat terlihat dalam slogannya yang berbunyi “Alon-alon asal kelakon” yang berarti pelan-pelan, asal tercapai. Saya juga menyadari bahwa transportasi di Indonesia sangat kacau. Sering saya melihat jadwal yang tertera tidak sesuai dengan kedatangan, maupun keberangkatan alat transportasi tersebut. Banyak juga pelayanan masyarakat yang tidak tepat waktu dalam pelayanannya. Hal yang menyebabkan masyarakat Asia, seperti Indonesia sering membuang buang waktu adalah karena budaya melihat waktu seperti lingkaran dan slogan “alon-alon asal kelakonnya”, karena kedua budaya inilah masyarakat merasa bahwa tidak ada waktu yang akan terbuang, asal tujunannya tercapai, terlebih lagi waktu itu akan kembali lagi seperti lingkaran.
Dari hal ini, saya menyadari bahwa budaya meilhat waktu sangat mempengaruhi sifat dan karakteristik masyarakatnya. Walaupun berbeda dan dapat memicu konflik di antara satu sama lainnya karena perbedaan cara melihat waktu ini, saya merasa bahwa penyesuaian diri sangatlah penting bagi setiap individu dalam interaksinya. Setiap individu dari setiap budaya, harus menyesuaikan interaksinya dengan masyarakat tertentu. Sebagai contoh, apabila saya memiliki janji dengan orang asing, saya harus datang teapat waktu agar tidak menyinggung perasaan orang tersebut. Sebagai timbal balik, apabila ada orang asing yang melihat ketidakteraturan waktu yang terjadi, seperti keterlambatan pelaksanaan pesta orang asia, individu tersebut harus menyadari bahwa memang budaya yang ada memang seperti itu, dan dia tidak bisa memaksakan kehendaknya dalam ketepatan waktu. Apabila pemahaman dan penyesuaian ada mampu berjalan dengan baik, interaksi yang ada pun juga dapat berjalan dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar