Selasa, 14 Juni 2011

Cara Bersalaman yang Berbeda

Pada tanggal 18 November 2008 saya genap berumur 16 tahun dan ulang tahun saya jatuh pada hari minggu. Setelah selesai ibadah tiba-tiba nama saya dipanggil dan disuruh untuk maju kedepan. Kemudian saya maju dan semua orang yang di dalam ruang kebaktian remaja menyalami saya satu per satu. Rata-rata yang menyalami saya tidak benar-benar menyalami saya. Mereka hanya sekedar menyentuh tangan saya dan tidak benar-benar menggenggam tangan saya. Saya merasa kesal tetapi saya tidak menunjukkan kekesalan saya kepada orang-orang tersebut. Sempat terlintas didalam pikiran saya bahwa lebih baik mereka tidak usah menyalami saya dan cukup mengucapkan selamat saja karena mereka tidak niat untuk menyalami saya. Didalam benak saya, jika seseorang menyalami orang lain maka orang itu harus menyalami dengan menggenggam tangan orang yang kita salami dan tidak sekedar menyentuh tangan orang tersebut. Ternyata kebanyakan orang-orang Indonesia yang saya temui, jika bersalaman jarang sekali mereka benar-benar menggenggam tangan orang yang disalami dan memang begitu kebiasaan mereka. Hal itu sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan terus menerus sehingga sekarang membuat saya menjadi lebih terbiasa dan memakluminya tanpa berpikiran negatif lagi. Berbeda halnya saat saya bertemu dengan orang asing. Pada suatu hari sepupu saya datang dari Australia dan membawa seorang teman dari sana. Sepupu saya memperkenalkan saya kepada temannya ini. Dia menyapa saya dan menyalami saya dengan menggenggam tangan saya secara tegas. Sama halnya saat sekolah saya kedatangan Korea Internet Volunteers dari Seoul yang beranggotakan 4 orang, KIV ini selalu datang ke sekolah kami setahun sekali dengan orang-orang yang berbeda pula. Mereka datang untuk mengajari IT dan bahasa Korea. Saya selalu ikut bagian dalam kelas yang mereka adakan. Saat mereka memperkenalan diri didepan kelas, sambil menunduk kemudian mereka menyalami kami satu per satu menggenggam tangan kami dengan tegas dan tidak hanya sekedar menyentuhnya. Dan hal yang sama selalu dilakukan oleh KIV berikutnya saat memperkenalkan diri mereka didepan kelas. Hal yang sama juga dilakukan saat saya berkenalan dengan teman baru saya yang berasal dari Belanda dan Jerman.
Jadi intinya cara bersalaman antara orang Indonesia dengan orang asing berbeda. Orang Indonesia mayoritas bersalaman hanya menyentuh tangan orang yang disalami kemudian dilepaskan tanpa menggenggamnya. Tetapi orang-orang dari negara lain jika bersamalan akan menggenggam tangan orang yang disalaminya dengan tegas. Mereka melakukan itu mungkin karena untuk menunjukan antusias mereka terhadap seseorang yang mereka jabati tangannya.

Senin, 13 Juni 2011

Perbedaan Etnis di Indonesia

Suatu hari saya sedang berjalan kaki, entah dimana dan kapan saya lupa. Tapi ada satu hal yang saya ingat. Kebetulan di sana ada segerombolan laki-laki yang terlihat drai wajahnya adalah orang Jawa, sedangkan saya adalah keturunan Cina. Ketika saya melintas di depan mereka, gerombolan laki-laki itu berteriak dan terdengar seperti menggoda, ”Cina rek.. Ono Cina lewat”. Saya tahu bahwa orang yang dimaksud adalah saya. Saya pun tidak menoleh dan segera berjalan melewati mereka. Ketika tiba di rumah dan menceritakan semua kepada mama saya, mama saya menyuruh saya untuk berhati-hati melewati jalan itu karena banyak orang-orang Jawa yang nongkrong dan kadang-kadang mabuk-mabukan di sana.

Menurut saya, ada alasannya mengapa orang Jawa bersikap begitu adalah karena mereka punya mindset bahwa orang Cina itu cantik-cantik, ganteng-ganteng, bersih, berkulit putih, dan kaya (karena kebanyakan orang Cina adalah pedagang) sehingga lebih menarik perhatian, lebih eksklusif, dan terkesan lebih Wah bila dibandingkan dengan ras mereka sendiri. Tidak hanya ornag jawa, menurut pendapat saya pun, ada dua alasan mengapa orang Cina pun terkadang be aware dan punya pandangan buruk tentang orang Jawa. Yang pertama, mengingat kejadian Mei 1998 dimana bisa dilihat kebrutalan orang Jawa membantai seluruh orang Cina tanpa terkecuali. Hal itu adalah trauma mendalam yang cukup membentuk mindset orang Cina bahwa orang Jawa itu buruk. Kedua, keberadaan orang Cina di Indonesia adalah minoritas yang bila sewaktu-waktu ada permasalahan etnis, orang Jawa bisa menyerang karena jumlah mereka jauh lebih banyak. Sehingga orang Cina akan lebih berhati-hati bila berurusan dengan orang Jawa.

Akhir kata, perbedaan memang tidak bisa dihindari, tapi dari kasus ini saya belajar untuk tetap bersikap baik dan sopan pada semua orang meski berbeda etnis serta tidak membeda-bedakan, sehingga mereka pun bersikap baik dan sopan pada saya.

Stereotip dan Diskriminasi dalam Ras

Perbedaan budaya pasti terjadi di setiap liku kehidupan kita. Adapun perbedaan budaya yanga saya alami yakni mengenai perbedaan budaya dalam ras. Pada awalnya, sejak kecil sampai beranjak remaja ini, saya diajarkan oleh orang tua saya untuk memberi toleransi terhadap perbedaan budaya yang ada, terutama dalam perbedaan ras. Saya menyadari ras saya yakni ras China adalah kaum minoritas di negara ini. Sejak saya sekolah, teman-teman saya mayoritas berbeda ras dengan saya. Kebanaykan dari mereka adalah ras Jawa. Saya merasa nyaman saja dengan mereka, juga keluarga saya mengajarkan kepada saya untuk tidak pilih kasih dalam berteman. Setelah bertahun-tahun saya tinggal di lingkungan yang mayoritas beda ras dengan saya, saya tetap mengalami diskriminasi. Bukan saya saja, namun teman-teman saya yang ras China juga mengalami peristiwa yang sama dengan saya. Contohnya, di lingkungan rumah saya, ketika saya keluar jalan-jalan sekitar rumah saya bersama teman teman saya, seringkali saya mendapati suatu sindiran atau ejekan yang tidak berkenan “cino..cino..mayak kabeh..opo rapah..orenga padeh bei..hokh..” yang artinya : orang China itu semuanya menyebalkan..payah..!
Saya merasa tersinggung. Kadang saya merasa minder dengan olokan itu setiap kali ketemu. Kadang juga takut untuk keluar rumah. Padahal saya merasa tidak pernah mengusik atau mengganggu mereka. Karena saya menyadari perbedaan budaya ini membutuhkan toleransi. Contoh lain, ketika mama saya dan saya berbelanja ke pasar. Ketika kami bertransaksi, saya dan mama saya dikenai harga tinggi. Sedangkan pembeli sebelum kami yang ras Jawa mendapati harga murah. Padahal barang yang dibeli sama kuantitas dan kualitasnya. Besoknya, mama mencoba menyuruh pembantu kami yang adalah ras Jawa untuk berbelanja barang yang sama dengan kuantitas yang sama. Dan, ternyata, pembantu saya dikenai harga murah. Mama saya bertanya, “mbak kenapa ya kalo saya yang belanja dapatnya harga mahal mulu meskipun sudah saya tawar?” mbak saya menjawab “ maklum cik, tacik kan kaum kulit Putih, yang selalu dapat stereotip ekonomi golongan menengah ke atas, jadi ya cenderung dikasi harga lebih mahal daripada konsumen ras Jawa. Hehe.. “
Saya dan mama saya cuma geleng –geleng kepala. Mama saya menjawab “ lha wong ya ndak mesti mbak, kaum kulit putih ato China sugih kabeh. Ono-ono wae.. semuane ya sama wae lho mbak ada golongan menengah ke atas maupun sebaliknya.. “ Dan peristiwa itu selalu terjadi untuk kaum China, dimana kami menjadi korban stereotip negative dan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Ya inilah kenyataan yang sulit saya terima namun harus saya coba saya terima selama saya menyandang ras China yang kurang mendapati stereotip positif dari ras mayoritas, ras Jawa. Terlebih negara Indonesia adalah negara yang multicultural. Namun, saya tidak membenci mereka yang ras Jawa. Karena bagi saya mereka adalah ciptaan Tuhan juga. Silsilah keluarga Tuhan juga berbeda-beda dalam ras. Semua sama, mungkin ada dari mereka (ras Jawa) yang didasarkan dengan rasa iri kepada ras kami sehingga terjadilah stereotip dan diskriminasi. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dahulu antara ras China dengan ras Jawa. Hingga dampaknya diberikan pada generasi selanjutnya sampai sekarang. Menurut informasi artikel di google, diskriminasi kebanyakan terjadi korbannya ras China, dikarenakan banyak factor, ada yang menyatakan faktor rasa iri akan keunggulan ras lain, ada juga pernyataan lain :kesenjangan ekonomi, ada juga pernyataan mengenai sejarah perbedaan agama; dimana ras China banyak menganut Kristen dan ras Jawa menganut Islam, yang masing-masing memiliki ajaran berbeda di dalamnya.
Entahlah, pernyataan mana yang benar. Yang jelas, saya sebagai ras China, hanya bingung dan minder sebagai kaum minoritas di Negara ini, terlebih mendapati diskriminasi terus.

Intercultural Communication Assignment

Suatu hari saudara saya dari Bandung datang berkunjung ke Surabaya untuk beberapa hari. Waktu itu, saudara saya baru menduduki kelas 4 SD. Jadi, ia tidak terlalu banyak mengetahui bahasa Surabaya, lebih tepatnya bahasa Jawa yang sangat dominan di Surabaya. Saya masih ingat waktu itu saya pergi berenang dengan saudara saya karena ia hobi berenang. Kemudian setelah berenang sekalian lama, ibu dari saudara saya atau tante saya berteriak sambil mengatakan “Ayo sudah, nyebrang!”. Saya yang masih di dalam kolam berenang berpikir sejenak dan terdiam. Apa maksud dari tante saya menyuruh saya menyeberang? Padahal saya berada di dalam kolam berenang, bukan di jalan raya. Sambil saya berpikir, saudara saya segera menepi ke pinggir kolam renang dan keluar dari kolam renang. Kemudian sambil bertanya-tanya, saya juga mengikuti saudara saya keluar dari kolam renang. Setelah itu, saya bertanya kepada tante saya, mengapa ia menyuruh saya untuk “nyebrang”. Kemudian ia dan saudara saya tertawa terbahak-bahak. Lalu ia menjelaskan pada saya bahwa “nyebrang” itu adalah bahasa Bandung yang artinya “mentas” dalam bahasa Jawa. Setelah saya mendengar itu, saya juga langsung tertawa terbahak-bahak karena saya merasa terlihat bodoh tadi. Sebelumnya saya tidak tahu kalau “nyebrang” dalam bahasa Bandung berarti “mentas” dalam Jawa. Saya merasa malu ketika tante saya mengatakan “nyebrang” pada saya, saya sempat berpikir kalau tante saya benar-benar menyuruh saya untuk “menyeberang”. Bahkan waktu itu, saya benar-benar berpikir sejenak, untuk apa saya menyeberang dalam kolam renang? Untung saja saudara saya segera keluar dari kolam renang, sehingga saya mengikutinya. Kalau tidak, tante saya bisa meneriaki saya lagi, dan bisa-bisa orang mengira saya tuli :) Juga ada beberapa kata dalam bahasa Bandung yang memiliki arti yang berbeda dengan bahasa Surabaya. Seperti kata “pisan” dalam bahasa Bandung yang memiliki arti “banyak”, sedangkan “pisan” dalam bahasa Surabaya berarti “juga”. Masih banyak kata lain yang membuat kami bingung satu sama lain. Jad selama saudara saya di Surabaya, kami saling bertukar kata-kata, agar kami tidak saling salah mengerti satu sama lain. Akhirnya, sekarang saya jadi mengetahui beberapa kata-kata Bandung yang berbeda arti dengan bahasa Surabaya.