This phenomenon was happened when I was in senior high school . My senior high school was in SMAK.St.Hendrikus , Surabaya . The phenomenon started when there is a transferred student from America to my school . The transferred student named was Jeannete . I thought it was the first time I have a friend from America . The process of making friendship with her was not difficult , but in the first time I thought it would be so hard enough to do it . I thought that Jeannete would be silent and would be shy in class , but everything is the opposite . The first impression of Jeannete was correct that she is silent and shy , but it is not for a long time . The friendship and icebreaking started only about 4 or 5 days and Jeannete the America student who lived in America that day is like a Jeannete an American who live in Surabaya for a long time . She making jokes with all of my friend and of course me . The funniest thing was many of my friends were not good at English . So , many of my friends responded Jeannete's English language with body language and a little bit short form of English by my friends . It was a great and unforgettable moment of our friendship . Jeannete more like a boy , she is such a boy in his style of friendship . In Indonesian , a girl is identical with her shy personalities and closed . But Jeannete is the different one , I got an image of American girl from Jeannete . The American girl culture is open and they are very welcome and they were not a shy person . For example , when Jeannete said hello to me or my friends , she's patting our backs . She spoke with us with the expression of happy and cheers up . When she spoke , she always watch the eyes of the pair . Jeannete stay in Surabaya , Indonesia not for a long time . She only stay in here for about only 2 months and then she returned to America . I got many imagination about the America culture from Jeannete , and I also missed her very much because I do not have many native friends .
Selasa, 24 Mei 2011
Nilai Moral dan Kesopanan
Konflik perbedaan budaya itu akan trjadi apabila budaya lain memasuki budaya mayoritas. contohnya :
turis asing (bule) yg bebas masuk ke Indonesia yg serba dilarang. Di sini akan terjadi konflik perbedaan budaya. Ada bule yang dimana jika jalan melewati di depan orang yang berumur lebih tua, biasanya bule tersebut tidak menundukkan kepalanya.
Jikalau bule tersebut berdatangan ke Indonesia dimana mereka yang mayoritas bersikap seperti itu, maka akan trjadi konflik perbedaan budaya, karena paradigma bule tersebut beranggapan bahwa kita berlaku aneh, padahl menundukkan kepla saat jalan melewati orang yang lebih tua adalah salah satu budaya di Indonesia. Terutama budaya Jawa. Sedangkan orang Indonesia akan berpikir bahwa bule tersebut kurang sopan atau bahkan tidak sopan dalam hal menghormati orang.
Bias menimbulkan konflik kekerasan fisik karena adanya orang Indonesia yang tidak bias terima sikap budaya Barat yang kurang menghargai kesopanan.
Jelas ini karena perbedaan budaya Barat dengan Indonesia yang sangat menonjol berbeda. Akibatnya, turis asing yang berkunjung ataupun menetap di Negara Indonesia belum tentu punya banyak teman dari Indonesia, meskipun bule tersebut mampu memahami bahasa kita. Semuanya itu tergntung pada pribadi individu masing-masing, apakah mau mnghargai budaya lain atau tidak?!
Mengapa turis asing (barat) dipersulit bahkan ada isu dilarangnya turis asing (barat) masuk ke Indonesia?
Jelas, bahwa dari budaya agama Indonesia ini mayoritas pemeluk agama Islam dan dalam ajaran Islam diajarkan untuk menutup aurat; tidak mengumbar aurat seperti pada budaya Barat.
Jikalau ada turis asing yang mengenakan busana minim atau berpakaian ‘terbuka’ dan dilihat para masyarakat Islam, sehingga hal tersebut dapat menimbulkan suatu perilaku negatif seperti : pikiran jorok merajalela, terutama bukan hanya pada agama Islam saja, konkritnya pada anak di bawah umur yang sedang melihatnya (keponakan saya) melihat bule yang berpakain minim lalu keponakan saya dengan polosnya melihatnya, terlebih saat ada bule yang bermesraan di depan umum (berpelukan dan berciuman; Kuta-Bali). Keponakan saya melihat hal tersebut secara tidak sengaja. Padahal hal tersebut tidak pantas dilihat oleh anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Berdasar konflik terpapar di tas inilah, ada isu dilarangnya turis-turis asing masuk ke Indonesia, karena perbedaan budaya barat yang tinggi sedangkan di Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai moral dan agama.
Inilah perbedaan yang sangat menonjol dari budaya Barat dan Indonesia.
The Word 'Idiot'
I was born and raised in Surabaya. My mother was raised in Makassar and my father was from Mollucas. They lived in Java after they had been married. My parents used common Bahasa Indonesia to talk to me. One day, my mother and I had to go to Makassar because grandpa passed away. We had to attend the funeral. The extended family members was also coming back from places all around Indonesia, such as Papua, Surabaya, Manado, etc. When they meet each other, they talk very bluntly as Makassar people. After the funeral had finished, we had lunch at grandpa's home. After finishing the lunch, some family members sat around the dining table and reminiscing about my grandparents. We were also talking about their friends. We were talking about this certain friend of grandpa's. But, we forgot his name. Neither my mother nor I knew this person. Then, my cousin mentioned a name, but she pronounced it wrongly. Correcting her, my aunt said, "That's not it, you idiot!"
I was shocked with the word 'idiot'. Although my mother is harsh, she didn't say 'idiot' or 'stupid' so easily to me. More surprisingly, the girl responded calmly like it's nothing disturbing. She just laughed, scratched her head, and said, "No? I was sure I said it right..."
After that, both of them fell silent. When they turned to me, I just smiled because I didn't know what to do. At least, smiling there won't be considered an offense. Finally, my mother broke the ice and tried to continue the conversation.
In the evening, my mother said to me that she was also shocked with the way my aunt talked to my cousin. At first, I was glad that I was not the only one feeling that way. But then, I wondered why my mother was shocked. I mean, it's her family and she would have understood. It should be a usual thing for her, since she was raised in Makassar that way. We are used to politeness in Java.
The culture in our surroundings can change us in many way. It could change the way we talk, our daily habits, our point of view, or our ways of thinking. Culture is not in our genes. Although it is passed through generations, the surrounding society and the place we grow or learn also take part in shaping our mind, our speech, and our behavior.
Christy - 11410004
I was shocked with the word 'idiot'. Although my mother is harsh, she didn't say 'idiot' or 'stupid' so easily to me. More surprisingly, the girl responded calmly like it's nothing disturbing. She just laughed, scratched her head, and said, "No? I was sure I said it right..."
After that, both of them fell silent. When they turned to me, I just smiled because I didn't know what to do. At least, smiling there won't be considered an offense. Finally, my mother broke the ice and tried to continue the conversation.
In the evening, my mother said to me that she was also shocked with the way my aunt talked to my cousin. At first, I was glad that I was not the only one feeling that way. But then, I wondered why my mother was shocked. I mean, it's her family and she would have understood. It should be a usual thing for her, since she was raised in Makassar that way. We are used to politeness in Java.
The culture in our surroundings can change us in many way. It could change the way we talk, our daily habits, our point of view, or our ways of thinking. Culture is not in our genes. Although it is passed through generations, the surrounding society and the place we grow or learn also take part in shaping our mind, our speech, and our behavior.
Christy - 11410004
Senin, 23 Mei 2011
Indonesia Vs German
Kejadian ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya di kota kelahiran saya, Tarakan. Pada saat itu saya kenal baik dengan seseorang yang kini menjadi sahabat dekat saya. Dia adalah seorang pria berwarga Negara asing yaitu Jerman sebut saja namanya SG. Alasan mengapa dia datang ke kota kelahiran saya adalah di karenakan pekerjaan di bidang yang dia jalani pada saat itu. Pada awal pertemuan saya merasa kurang cocok dengan dia dan timbul perasaan kurang nyaman di hati saya.
Ada tiga kejadian yang membuat saya merasakan hal yang demikian. Yang pertama, pada awal perjumpaan SG mengajak saya untuk bepergian berdua. Pada saat itu saya belum berani menyetujui ajakannya di karenakan saya baru saja kenal dengan dia, dan lagipula kedua orang tua saya mana mungkin memperbolehkan saya bepergian dengan “stranger”, orang yang baru saja saya kenal. Akhirnya saya mencoba menolak dengan mengatakan bahwa kedua orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk pergi pada saat itu. Tapi dia langsung berkata bahwa dia akan meminta izin langsung dari orang tua saya agar memperbolehkan saya pergi dengan dia. Dia langsung menuju rumah saya dan berbincang dengan orang tua saya dengan beraninya dan yang lebih parah lagi dia berani memanggil nama orang tua saya tanpa di ikuti panggilan untuk orang yang lebih tua. Pada akhirnya dia mengatakan bahwa hal seperti itu wajar terjadi bahka sudah biasa terjadi di Jerman. Saya masih saja tidak percaya karena di bandingkan dengan pengalaman saya, bahkan teman dekat saya sendiri tidak berani berhadapan langsung dengan orang tua saya hanya untuk meminta izin keluar, apalagi sampai memanggil nama orang tua saya didepan mereka. Teman-teman saya bias di cap sebagai anak tidak tahu sopan santun.
Kejadian yang kedua adalah ketika sahabat saya, SG ini harus menghadiri sebuah acara yang di adakan oleh dinas kehutanan, tempat dimana dia bekerja. Acara ini adalah acara resmi yaitu ramah tamah bersama oleh seluruh kepala dinas-dinas di Tarakan. Dia mengajakku untuk menemani dia hadir dalam acara yang di selenggarakan pada pukul 16.00 WITA itu. Dia berjanji untuk menjemput saya pukul 15.15 WITA, kemudian saya menyetujui hal itu. Akhirnya tepat pukul 15.15 WITA, dia sampai di depan rumah saya sambil mengirimkan pesan singkat agar saya segera keluar dari rumah. Sebelum keluar saya mencoba merapikan rambut saya terlebih dahulu. Sesudah itu saya masuk ke dalam mobilnya dan melihat ke arah jam. Pada saat itu jam di mobilnya menunjukkan tepat pukul 15.23 WITA. Saat masuk ke dalam mobil saya hanya menebarkan senyum padanya sambil berkata “Let’s Go!”. Tapi dia langsung berkata, “You are late!”. Saya langsung terdiam dan dia juga mengatakan bahwa saya terlambat 8 menit. Hal ini mengejutkan saya karena bagi saya hal tersebut adalah wajar dan sudah sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari saya. Tapi bagi dia waktu adalah bagian terpenting yang harus di perhatikan dalam hidupnya, itulah yang biasanya terjadi di daerah asalanya. Sejak itu saya berusaha on time agar tidak di marahi lagi olehnya.
Kejadian yang terakhir adalah kejadian dimana SG sahabat saya ini memeluk dan mencium pipi dan kening saya di muka umum tepatnya di bandara Tarakan. Pada saat kejadian ini saya cukup kaget dan tidak menyangka bakal terjadi hal seperti ini. Kejadian ini membuat saya kurang nyaman dan saya memperhatikan hal yang sama juga di rasakan oleh orang-orang sekitar saya. Karena berpelukan dan ciuman pipi dan kening bukanlah hal yang sering di lakukan bagi orang-orang di daerah saya, tapi bagi dia hal ini biasa di lakukan baik dalam pertemuan maupun perpisahan. Kebetulan pada saat itu juga saya dan dia akan berpisah, karena dia harus kembali ke tempat asalnya. Itulah rangkaian tiga kejadian yang membuat saya kurang nyaman yang di karenakan perbedaan budaya yang ada antara saya sebagai orang Indonesia dengan sahabat saya SG sebagai orang kelahiran Jerman.
Langganan:
Postingan (Atom)