Ketika saya dan adik saya berada di bangku Sekolah Dasar, khususnya ketika saya menduduki kelas tiga sedangkan adik saya menduduki kelas dua, kami sangat senang berkunjung ke rumah tante kami yang terletak di sebuah kompleks perumahan yang penghuninya kebanyakan adalah penduduk Pribumi atau orang-orang asli Indonesia tanpa ada campuran Tionghoa. Setiap pulang sekolah, saya dan adik saya langsung pergi ke sana di antar oleh ayah kami, dan pulang ke rumah kami sendiri jika hari sudah malam. Kami sering datang ke sana karena banyak sepupu-sepupu yang sama umurnya dengan kami yang tinggal di sana dan juga di kompleks itu banyak anak-anak yang umurnya sebaya dengan kami. Kami sering bermain permainan yang menyenangkan bersama-sama, misalnya bermain masak-masakan, bermain boneka, dan lain-lain. Sering juga kami beramai-ramai menonton film “Power Rangers” di rumah tante saya sambil berteriak-teriak histeris saat si jagoan bertarung dengan para monster. Itulah yang membuat saya dan adik saya senang pergi ke rumah tante saya. Di rumah kami sendiri, kami hanya bermain berdua saja sehingga terasa kurang seru dan kurang ramai. Namun keseruan kami bermain dengan teman-teman sebaya kami itu tidak berlangsung lama, karena ada beberapa dari teman-teman Pribumi kami yang kakaknya melarang mereka untuk berteman dengan saya, adik saya, dan sepupu-sepupuku. Ternyata mereka dilarang bergaul dengan orang-orang yang berasal dari ras Tionghoa. Menurut kakak-kakak mereka, orang-orang campuran Tionghoa berbeda dengan orang-orang asli Indonesia seperti mereka. Bagi mereka, orang-orang Tionghoa adalah orang yang pelit, kikir, sombong, dan harus dijauhi. Mereka menganggap kami berbeda dengan mereka hanya karena pada umumnya orang-orang Tionghoa memiliki kulit yang lebih putih dan mata yang lebih kecil dari mereka. Padahal sebenarnya kami hanya ingin bermain bersama dengan adik-adik mereka dan tidak ingin mencari musuh. Dan juga, kami tidak pernah mencari masalah dengan mereka apalagi dengan keluarga mereka. Semenjak saat itu, saya hanya bermain dengan adik saya dan sepupu-sepupu saya. Teman-teman yang dulu bersahabat dengan kami menjadi sangat berbeda. Mereka yang dulunya ramah dan baik terhadap kami malah sering mengejek dan memusuhi kami. Saat melihat kami, mereka pasti akan berteriak “ Cina Loreng, kalo mati nanti digoreng “. Perkataan itu sangat menyakiti hati kami dan kami sering bertanya kepada orang tua kami, mengapa mereka mengatakan hal yang demikian. Namun, orang tua kami hanya menyuruh kami diam saja dan tidak usah mempedulikan perkataan mereka. Dari dulu sampai sekarang saya tidak mengerti apa maksud dari perkataan mereka tersebut, mungkin hanya mereka saja yang mengetahuinya. Beberapa bulan kemudian, tante saya memutuskan untuk pidah rumah di dekat rumahku. Hal ini membuat saya dan adik saya senang karena kami tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke rumah tante saya untuk bermain dengan sepupu-sepupu kami. Selain itu juga kami tidak akan mendengar lagi ejekan-ejekan dari teman-teman Pribumi kami dahulu.
Selasa, 31 Mei 2011
Senin, 30 Mei 2011
STEREOTIPE NEGATIF MENIMBULKAN DISKRIMINASI
Dalam konteks stereotip dan diskriminasi ini, saya akan memberi contoh konkret yang pernah terjadi di dalam keluarga saya (lebih tepatnya terjadi pada ayah, kakak dan saya yang pernah merasakannya). Saya tinggal di lingkungan kampung yang padat penduduknya dan sebagian besar adalah masyarakat Jawa atau pribumi. Seperti yang kita tahu bahwa orang-orang pribumi seringkali memiliki stereotip negatif kepada orang-orang keturunan Tionghoa dan sebaliknya. Pada suatu hari tepatnya pada saat akan memperingati HUT Indonesia pada bulan Agustus, kampung saya memiliki acara untuk memperingati 17 Agustusan. Tentu saja untuk menyelenggarakan acara ini membutuhkan dana. Para pengurus wilayah kampung saya datang ke rumah dan meminta ayah saya untuk menjadi donatur dalam acara tersebut. Mereka hanya meminta orang-orang keturunan Tionghoa yang dijadikan donatur. Padahal belum tentu semua orang Tionghoa di kampung saya adalah orang yang dikategorikan kaya atau memiliki banyak uang. Lalu peristiwa kedua pada saat kerja bakti di kampung. Mereka menilai bahwa orang-orang yang berketurunan Tionghoa tidak akan mau berpartisipasi dalam kerja bakti bersama di kampung, padahal tidak semua orang Tionghoa seperti itu. Pada saat itu ayah saya tidak diberitahu dan tidak diajak untuk ikut kerja bakti di kampung, padahal ayah saya senang sekali jika bisa membantu dan ikut berpartisipasi dalam kerja bakti seperti ini. Namun, karena tidak diberitahu dan tidak diajak, akhirnya ayah saya pun tidak ikut serta dalam kerja bakti tersebut. Dari kejadian ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa, kita hidup di dunia yang multikultural. Oleh sebab itu, stereotip yang bersifat negatif itu seharusnya dihilangkan sehingga tidak sampai terjadi diskriminasi. Sebaliknya, kita sebaiknya bersikap saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia.
Minggu, 29 Mei 2011
Perbedaan Visi Kampus Berpengaruh pada Kultur Mahasiswanya
Sebelum saya terdaftar sebagai mahasiswi angkatan 2010 di Universitas Kristen Petra (UKP), saya telah mengikuti perkuliahan selama 1,5 tahun di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual angkatan 2008. Karena merasa tidak cocok dengan sistem, manajemen, dan program institusi tersebut, saya memutuskan untuk pindah kuliah dan kemudian bergabung di jurusan Sastra Inggris – Universitas Kristen Petra. Tentu saja, perpindahan ini menimbulkan culture shock bagi saya. Bagaimana tidak, ternyata lingkungan kampus jurusan Sastra Inggris UKP sangat berbeda dengan kampus saya sebelumnya (ITS). Dari segala perbedaan signifikan yang ada; semisal kegiatan mahasiswa, hubungan antara dosen dengan mahasiswa, dan suasana pasca orientasi mahasiswa baru; saya ingin berbagi cerita mengenai poin terakhir, yaitu suasana pasca orientasi mahasiswa baru.
Awalnya, saya cukup kaget ketika melihat suasana kampus UKP yang begitu hangat, penuh canda tawa seusai program orientasi mahasiswa baru berakhir. Pada saat itu, terlihat kumpulan mahasiswa senior sedang saling bercanda. Sepertinya mereka sedang mengenang kembali masa semester sebelumnya, mengingat kejadian-kejadian lucu, dan membaginya satu sama lain. Tak jarang pula beberapa dari mereka mencoba mendekati mahasiswa atau mahasiswi baru untuk sekedar berkenalan. Tentunya, suasana seperti ini tidak saya temukan ketika berkuliah di ITS. Anehnya, para senior (angkatan 2006 yang meng-ospek angkatan saya) malah menciptakan suasana yang menegangkan pasca orientasi mahasiswa baru. Mereka kerap memberi tekanan pada mahasiswa baru dengan menyuruh kami menyelesaikan tugas angkatan, dimana waktu itu kami juga telah menerima tugas kuliah yang tak kalah banyaknya. Tak jarang pula, beberapa dari kami ‘disidang khusus’ oleh para senior angkatan 2006 dan 2004 perihal kelanjutan ospek kami yang dinilai gagal.
Setelah melihat perbedaan ini, saya berusaha memahami adanya perbedaan kultur di masing-masing institusi. Kampus ITS sebagai institusi berbasis tehnik tentunya memiliki perbedaan dalam hal visi dan misi dengan kampus UKP sebagai universitas berbasis agama. Dalam hal ini, ITS ingin mencetak lulusan-lulusan yang tangguh dalam situasi apapun (walaupun keadaan yang keras sekalipun); mengingat kuliah tehnik bukan hal yang mudah dan membutuhkan ketelitian serta keuletan yang memadai dalam setiap teknis pengerjaannya. Maka itu, kemungkinan para senior di ITS ingin ’mendidik’ para juniornya agar selalu tangguh dalam kondisi apapun di waktu kedepan, dengan cara memberi tugas angkatan dikala junior juga memiliki tugas kuliah. Sedangkan melihat dari sisi UKP, dimana kampus ini memiliki visi “A Caring and Global University”, sudah pasti kampus ini mengedepankan “kasih” sebagai asas dan amanat dari Tuhan dalam melangsungkan kegiatan-kegiatannya. Setelah ospek, secara tak langsung para mahasiswanya juga ingin membentuk suasana yang tentram dan damai, karena bagi mereka, mengedepankan kasih dengan sesama adalah hal yang penting.
Berkaca dari pengalaman yang saya sebutkan diatas ini, sekarang saya menjadi lebih paham dan bijak dalam memberikan persepsi. Ternyata saya memang harus membaca masalah sampai kedalamnya sehingga mendapatkan sebuah pemahaman internal yang baik.
Diskriminasi Rasial
Pada waktu awal memasuki dunia perkuliahan, saya agak terkejut karena sebagian besar teman saya itu berasal dari suku yang berbeda dari saya. Saya adalah seorang keturunan Chinesse dan teman saya banyak yang berasal dari keturunan pribumi. Jujur saya takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan mereka dan kebiasaan mereka. Dari kecil saya selalu berada di lingkungan atau sekolah yang mayoritas bersuku sama dengan saya jadi saya tidak terlalu punya banyak pengalaman hidup dengan suku lain. Masyarakat sekitar saya pun secara tidak langsung mengajarkan bahwa orang-orang yang berasal dari suku lain itu tidak baik dan pemalas, jadi lebih baik jangan bergaul dengan mereka. Maka dalam otak saya sudah diset bahwa orang dari suku lain itu lebih baik di jauhi. Tapi saat itu saya tidak punya pilihan lain selain mencoba untuk berteman dengan mereka. Seiring berjalannya waktu, saya berteman dengan mereka, mereka adalah teman yang sangat baik dan seru. Pembicaraan kita juga cocok dan mereka bukan pemalas seperti kata orang-orang di sekitar saya. Saya merasa nyaman berteman dengan mereka dan saya juga merasa tidak ada perbedaan diantara kami selain warna kulit dan latar belakang suku kami. Perlahan saya mulai berubah dan merasa tidak ada masalah ketika saya berteman dengan mereka. Persepsi saya mulai berubah karena pengalaman ini.Teman-teman semasa kecil saya, yang memiliki suku yang sama dengan saya pernah berkata dengan nada sinis mengapa saya mau berteman dengan orang pribumi. Saya bisa berubah kaena saya mencoba untuk berteman dengan mereka. Bagi saya itu tidak masalah selama saya berteman dengan orang-orang yang baik dan tidak membawa saya ke kebiasaan yang buruk.
Menurut saya, diskriminasi rasial bisa terjadi karena bawaan dari nenek moyang kita. Dari dulu mereka sudah terdoktrin bahwa ras lain itu lebih buruk dibanding mereka. Hal itu bisa terjadi karena mereka cenderung bergaul hanya dengan ras mereka saja. Mereka tidak pernah mencoba bergaul dengan ras lain atau mungkin juga sekali mereka bergaul degan orang dari ras lain, orang tersebut mengecewakan mereka. Sehingganenek moyang kita beranggapan bahwa ras lain itu tidak baik. Saya juga dulu terpengaruh dengan sekitar saya yang mengatakan hal itu. Jadi saya juga ikut-ikutan menjauhi orang yang berasal dari suku lain. Bahkan di mind set saya, orang dari ras lain itu tidak baik dan tidak perlu di ajak bergaul. Saya merasa pengaruh dari orang lain sangat kuat terutama dari teman teman kecil saya yang berasal dari keluarga China totok. Mereka cenderung memandang rendah orang yang berasal dari ras lain.
Dari kejadian ini saya belajar bahwa sebenarnya perbedaan ras yang ada tidak perlu dibesar-besarkan. Tidak ada yang begitu berbeda, kecuali warna kulit, tipe wajah, dan kebudayaan saja. Kita semua sama saja dan tidak boleh membeda-bedakan perlakuan dengan ras lain. Saya juga belajar dari teman-teman saya yang di dunia kuliah ini, walaupun saya berbeda dri mereka, tapi mereka mau menerima saya. Mereka tidak memandang saya aneh. Maka dari itu, saya juga mulai belajar untuk tidak melihat seseorang dari luarnya saja. Tidak semua “stereotype” yang ada itu benar. Jadi melalui pengalaman saya semenjak saya berkuliah di Universitas Kristen Petra ini saya dapat merubah pandangan saya selama ini mengenai perbedaan ras.
Kamis, 26 Mei 2011
My Experiences Being A 'Lefty'
I once had a student seminar in my college and the seminar was taken in a classroom and it was consisted of many college chairs and in front of the class just a projector screen with its projector and a desk where the presentations taken place. After entered the room, I selected which chair that I want to seat. Then I chose a spot that I like which was near a window. The college chair was a wooden one and it looks old and small. An integrated small desk was on the right hand and it was fitted well with my right hand. I felt so uncomfortable because I am a left handed and if I use the desk I couldn’t face the presentation well. So I used my friend’s desk on my left to write something about the seminar.
Writing using left handed is a hard thing for some reason, because writing using left hand is using power to move your hand from left to right and could make a bad writing if the wet ink is hit by the hand. Writing on whiteboard is even more tiring, the unfortunate left-handed person has to raise his or her left hand high and push the left hand to the right until it gets tired.
Another occasion when I was in architecture, I had to create a house scale model (maquette) and the tools that I had to use such as scissors. Scissors that we know are designed to be used by right handed. So when I used it with my left hand, my hand started to ache especially when cutting thick paper or cartons. The funny accident happened when I was cutting a paper, I hold the paper with my right hand. And suddenly my right hand’s middle finger was cut by the scissors. Well, it bled and then it dried quite fast after I bent it using some tissues. When I continue cutting the paper, without my purpose, my middle finger was cut in the same place again, so the bleeding was worse than before. The result was the scale model were not really good and a scar on my middle finger.
Well, left handed people in the world are 10% of the world’s population based on Wikipedia. So that’s why the things that are used by human commonly right handed: scissors, music instruments, computer devices, watches, hand phones, and even wooden college chair. They are more popular and can be found easily. If we want to use left handed stuff, we have to ask or order the factory to specially build it for us or like in the United States, there are some stores that sell left handed stuff. The rarity of the left-handed tools or devices has very tight relation to the buyers who are mostly in small number and they are not really profitable, so that’s why they are little bit more ‘expensive’ than the normal ones.
In culture, especially in Indonesia, the local norms usually tell the little kids that using left handed is not good or prohibited. So the kids who were born to be left handed are forced to train their right hand for eating, shaking hands, giving/receiving something, playing guitar, or writing on a college chair. The term ‘left’ is already has its own meanings in many cultures around the world which is related to “dirty hand”, evil, unlucky, improper, etc. So, it is very rare to find toleration for left handed social interactions and left handed things that are made for left handed people in places that have this kind of culture.
Selasa, 24 Mei 2011
The difference of an American and an Indonesian
This phenomenon was happened when I was in senior high school . My senior high school was in SMAK.St.Hendrikus , Surabaya . The phenomenon started when there is a transferred student from America to my school . The transferred student named was Jeannete . I thought it was the first time I have a friend from America . The process of making friendship with her was not difficult , but in the first time I thought it would be so hard enough to do it . I thought that Jeannete would be silent and would be shy in class , but everything is the opposite . The first impression of Jeannete was correct that she is silent and shy , but it is not for a long time . The friendship and icebreaking started only about 4 or 5 days and Jeannete the America student who lived in America that day is like a Jeannete an American who live in Surabaya for a long time . She making jokes with all of my friend and of course me . The funniest thing was many of my friends were not good at English . So , many of my friends responded Jeannete's English language with body language and a little bit short form of English by my friends . It was a great and unforgettable moment of our friendship . Jeannete more like a boy , she is such a boy in his style of friendship . In Indonesian , a girl is identical with her shy personalities and closed . But Jeannete is the different one , I got an image of American girl from Jeannete . The American girl culture is open and they are very welcome and they were not a shy person . For example , when Jeannete said hello to me or my friends , she's patting our backs . She spoke with us with the expression of happy and cheers up . When she spoke , she always watch the eyes of the pair . Jeannete stay in Surabaya , Indonesia not for a long time . She only stay in here for about only 2 months and then she returned to America . I got many imagination about the America culture from Jeannete , and I also missed her very much because I do not have many native friends .
Nilai Moral dan Kesopanan
Konflik perbedaan budaya itu akan trjadi apabila budaya lain memasuki budaya mayoritas. contohnya :
turis asing (bule) yg bebas masuk ke Indonesia yg serba dilarang. Di sini akan terjadi konflik perbedaan budaya. Ada bule yang dimana jika jalan melewati di depan orang yang berumur lebih tua, biasanya bule tersebut tidak menundukkan kepalanya.
Jikalau bule tersebut berdatangan ke Indonesia dimana mereka yang mayoritas bersikap seperti itu, maka akan trjadi konflik perbedaan budaya, karena paradigma bule tersebut beranggapan bahwa kita berlaku aneh, padahl menundukkan kepla saat jalan melewati orang yang lebih tua adalah salah satu budaya di Indonesia. Terutama budaya Jawa. Sedangkan orang Indonesia akan berpikir bahwa bule tersebut kurang sopan atau bahkan tidak sopan dalam hal menghormati orang.
Bias menimbulkan konflik kekerasan fisik karena adanya orang Indonesia yang tidak bias terima sikap budaya Barat yang kurang menghargai kesopanan.
Jelas ini karena perbedaan budaya Barat dengan Indonesia yang sangat menonjol berbeda. Akibatnya, turis asing yang berkunjung ataupun menetap di Negara Indonesia belum tentu punya banyak teman dari Indonesia, meskipun bule tersebut mampu memahami bahasa kita. Semuanya itu tergntung pada pribadi individu masing-masing, apakah mau mnghargai budaya lain atau tidak?!
Mengapa turis asing (barat) dipersulit bahkan ada isu dilarangnya turis asing (barat) masuk ke Indonesia?
Jelas, bahwa dari budaya agama Indonesia ini mayoritas pemeluk agama Islam dan dalam ajaran Islam diajarkan untuk menutup aurat; tidak mengumbar aurat seperti pada budaya Barat.
Jikalau ada turis asing yang mengenakan busana minim atau berpakaian ‘terbuka’ dan dilihat para masyarakat Islam, sehingga hal tersebut dapat menimbulkan suatu perilaku negatif seperti : pikiran jorok merajalela, terutama bukan hanya pada agama Islam saja, konkritnya pada anak di bawah umur yang sedang melihatnya (keponakan saya) melihat bule yang berpakain minim lalu keponakan saya dengan polosnya melihatnya, terlebih saat ada bule yang bermesraan di depan umum (berpelukan dan berciuman; Kuta-Bali). Keponakan saya melihat hal tersebut secara tidak sengaja. Padahal hal tersebut tidak pantas dilihat oleh anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Berdasar konflik terpapar di tas inilah, ada isu dilarangnya turis-turis asing masuk ke Indonesia, karena perbedaan budaya barat yang tinggi sedangkan di Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai moral dan agama.
Inilah perbedaan yang sangat menonjol dari budaya Barat dan Indonesia.
The Word 'Idiot'
I was born and raised in Surabaya. My mother was raised in Makassar and my father was from Mollucas. They lived in Java after they had been married. My parents used common Bahasa Indonesia to talk to me. One day, my mother and I had to go to Makassar because grandpa passed away. We had to attend the funeral. The extended family members was also coming back from places all around Indonesia, such as Papua, Surabaya, Manado, etc. When they meet each other, they talk very bluntly as Makassar people. After the funeral had finished, we had lunch at grandpa's home. After finishing the lunch, some family members sat around the dining table and reminiscing about my grandparents. We were also talking about their friends. We were talking about this certain friend of grandpa's. But, we forgot his name. Neither my mother nor I knew this person. Then, my cousin mentioned a name, but she pronounced it wrongly. Correcting her, my aunt said, "That's not it, you idiot!"
I was shocked with the word 'idiot'. Although my mother is harsh, she didn't say 'idiot' or 'stupid' so easily to me. More surprisingly, the girl responded calmly like it's nothing disturbing. She just laughed, scratched her head, and said, "No? I was sure I said it right..."
After that, both of them fell silent. When they turned to me, I just smiled because I didn't know what to do. At least, smiling there won't be considered an offense. Finally, my mother broke the ice and tried to continue the conversation.
In the evening, my mother said to me that she was also shocked with the way my aunt talked to my cousin. At first, I was glad that I was not the only one feeling that way. But then, I wondered why my mother was shocked. I mean, it's her family and she would have understood. It should be a usual thing for her, since she was raised in Makassar that way. We are used to politeness in Java.
The culture in our surroundings can change us in many way. It could change the way we talk, our daily habits, our point of view, or our ways of thinking. Culture is not in our genes. Although it is passed through generations, the surrounding society and the place we grow or learn also take part in shaping our mind, our speech, and our behavior.
Christy - 11410004
I was shocked with the word 'idiot'. Although my mother is harsh, she didn't say 'idiot' or 'stupid' so easily to me. More surprisingly, the girl responded calmly like it's nothing disturbing. She just laughed, scratched her head, and said, "No? I was sure I said it right..."
After that, both of them fell silent. When they turned to me, I just smiled because I didn't know what to do. At least, smiling there won't be considered an offense. Finally, my mother broke the ice and tried to continue the conversation.
In the evening, my mother said to me that she was also shocked with the way my aunt talked to my cousin. At first, I was glad that I was not the only one feeling that way. But then, I wondered why my mother was shocked. I mean, it's her family and she would have understood. It should be a usual thing for her, since she was raised in Makassar that way. We are used to politeness in Java.
The culture in our surroundings can change us in many way. It could change the way we talk, our daily habits, our point of view, or our ways of thinking. Culture is not in our genes. Although it is passed through generations, the surrounding society and the place we grow or learn also take part in shaping our mind, our speech, and our behavior.
Christy - 11410004
Senin, 23 Mei 2011
Indonesia Vs German
Kejadian ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya di kota kelahiran saya, Tarakan. Pada saat itu saya kenal baik dengan seseorang yang kini menjadi sahabat dekat saya. Dia adalah seorang pria berwarga Negara asing yaitu Jerman sebut saja namanya SG. Alasan mengapa dia datang ke kota kelahiran saya adalah di karenakan pekerjaan di bidang yang dia jalani pada saat itu. Pada awal pertemuan saya merasa kurang cocok dengan dia dan timbul perasaan kurang nyaman di hati saya.
Ada tiga kejadian yang membuat saya merasakan hal yang demikian. Yang pertama, pada awal perjumpaan SG mengajak saya untuk bepergian berdua. Pada saat itu saya belum berani menyetujui ajakannya di karenakan saya baru saja kenal dengan dia, dan lagipula kedua orang tua saya mana mungkin memperbolehkan saya bepergian dengan “stranger”, orang yang baru saja saya kenal. Akhirnya saya mencoba menolak dengan mengatakan bahwa kedua orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk pergi pada saat itu. Tapi dia langsung berkata bahwa dia akan meminta izin langsung dari orang tua saya agar memperbolehkan saya pergi dengan dia. Dia langsung menuju rumah saya dan berbincang dengan orang tua saya dengan beraninya dan yang lebih parah lagi dia berani memanggil nama orang tua saya tanpa di ikuti panggilan untuk orang yang lebih tua. Pada akhirnya dia mengatakan bahwa hal seperti itu wajar terjadi bahka sudah biasa terjadi di Jerman. Saya masih saja tidak percaya karena di bandingkan dengan pengalaman saya, bahkan teman dekat saya sendiri tidak berani berhadapan langsung dengan orang tua saya hanya untuk meminta izin keluar, apalagi sampai memanggil nama orang tua saya didepan mereka. Teman-teman saya bias di cap sebagai anak tidak tahu sopan santun.
Kejadian yang kedua adalah ketika sahabat saya, SG ini harus menghadiri sebuah acara yang di adakan oleh dinas kehutanan, tempat dimana dia bekerja. Acara ini adalah acara resmi yaitu ramah tamah bersama oleh seluruh kepala dinas-dinas di Tarakan. Dia mengajakku untuk menemani dia hadir dalam acara yang di selenggarakan pada pukul 16.00 WITA itu. Dia berjanji untuk menjemput saya pukul 15.15 WITA, kemudian saya menyetujui hal itu. Akhirnya tepat pukul 15.15 WITA, dia sampai di depan rumah saya sambil mengirimkan pesan singkat agar saya segera keluar dari rumah. Sebelum keluar saya mencoba merapikan rambut saya terlebih dahulu. Sesudah itu saya masuk ke dalam mobilnya dan melihat ke arah jam. Pada saat itu jam di mobilnya menunjukkan tepat pukul 15.23 WITA. Saat masuk ke dalam mobil saya hanya menebarkan senyum padanya sambil berkata “Let’s Go!”. Tapi dia langsung berkata, “You are late!”. Saya langsung terdiam dan dia juga mengatakan bahwa saya terlambat 8 menit. Hal ini mengejutkan saya karena bagi saya hal tersebut adalah wajar dan sudah sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari saya. Tapi bagi dia waktu adalah bagian terpenting yang harus di perhatikan dalam hidupnya, itulah yang biasanya terjadi di daerah asalanya. Sejak itu saya berusaha on time agar tidak di marahi lagi olehnya.
Kejadian yang terakhir adalah kejadian dimana SG sahabat saya ini memeluk dan mencium pipi dan kening saya di muka umum tepatnya di bandara Tarakan. Pada saat kejadian ini saya cukup kaget dan tidak menyangka bakal terjadi hal seperti ini. Kejadian ini membuat saya kurang nyaman dan saya memperhatikan hal yang sama juga di rasakan oleh orang-orang sekitar saya. Karena berpelukan dan ciuman pipi dan kening bukanlah hal yang sering di lakukan bagi orang-orang di daerah saya, tapi bagi dia hal ini biasa di lakukan baik dalam pertemuan maupun perpisahan. Kebetulan pada saat itu juga saya dan dia akan berpisah, karena dia harus kembali ke tempat asalnya. Itulah rangkaian tiga kejadian yang membuat saya kurang nyaman yang di karenakan perbedaan budaya yang ada antara saya sebagai orang Indonesia dengan sahabat saya SG sebagai orang kelahiran Jerman.
Rabu, 18 Mei 2011
A Trip to Balikpapan
My sister got married so I had to go to my hometown to prepare the event. So, on the 16th of March 2011 I had a flight to Balikpapan, where my hometown is, and had to check-in around 4 pm. The first thing happened was that when I got in line of the check in queue, there were some people already and they were carrying their baggage, which were too many I thought. Majority the passengers, after I realized in the plane, were Javanese and Banjarnese who had planned to travel to Balikpapan or Samarinda through Balikpapan.
The queue was a mess. Some of the passengers ‘savagely’ took my line in front of me, so I abruptly let them stood in front of me. I actually felt really annoyed then I realized that they were one family, others more likely from into groups rather than a family, with the ‘leader’ in front of them carrying their tickets. When it was my turn, I did the check-in as fast as I could and then I headed to the second floor. After buying two books at the nearest bookstore, I continued walking to the waiting room. Half of the room was seated by some plane-waiting passengers. I chose the corner of the room for reading my book. The waiting room was getting full and there came again a family who had same characteristics as in the queue mess but with different faces. After sit on the bench near me, the family was so noisy, the worst part was when a child was so excited to see some planes. I couldn’t concentrate to read my book, so I decided to listen to my iPod while reading the book. Still, my annoyed feeling couldn’t get away. I tried to ignore them by just scanning the book until the passengers were called to take another queue lines for getting outside the terminal and heading to the plane. The same thing happened again. This time I already prepared for the queue stealer. The people were in rush with rigid faces. I actually became the same mood as them though it wasn’t so pleasant. I walked as fast as I could to the plane until I entered inside the iron bird through the back door.
In the plane, the journey was continued. I tried to find my seat and it was 28F. After struggling to reach the 28th row, someone was already in the 28F! I reported to a nearby flight attendant, she asked it is okay if I sit on the available sit which was 28A. Because the plane was getting more and more crowded and the 28F-man was showing innocent face (he was ignoring my complaint I think), so I decided to sit on the 28A and the problem was solved; solved with grumbling face. After that, a man beside me was so fascinated (I think), when I turned on the reading light. I smirked and expecting the take-off by read one of the new books.
Why the majority of passengers do acted so unruly? After some research and interviewing some of my friends, I tend to understand that the native Indonesians are lack in written knowledge. The written rules, in this case in the airplane and the airport, are mostly come from the western civilization, and usually taught from books. The Indonesian culture is mostly about norms and tradition which passed to a younger generation through lectures or stories (speeches). I assume that this also has some effect to the attitude of the people themselves. Their attitudes became tend to be hurried and hasty because they don’t really put attention to the written rules, so they want to be more flexible to achieve something. This contrasts to their own culture, when all things controlled by their own cultural rules and tradition, the native people tend to be calmer.
Selasa, 17 Mei 2011
Saat Orang Indonesia Bertemu Orang German
Saya sangat terkejut ketika saya mengalami apa yang disebut pengalaman pertemuan antarbudaya dengan teman-teman bibi saya yang datang dari Jerman pada bulan Januari tahun 2010. Tiba-tiba ibu saya menjemput saya dari sekolah dan kamipun menuju Hotel Tugu. Sesampainya disana, saya mendapati bibi saya dan teman-temannya sedang makan siang bersama-sama. Saya sangat yakin bahwa mereka menyadari kehadiran kami, namun yang mereka lakukan adalah tetap meneruskan makan siang mereka tanpa menawari kami. Bahkan, bibi saya juga melakukan hal yang aneh yang sama, yaitu memilih untuk tidak bertanya apakah kami sudah makan atau belum. Akhirnya dengan perut kelaparan saya hanya duduk diam tidak terlalu jauh dari meja makan. Beberapa saat kemudian, pria German yang bernama Michael bertanya kepada kami tentang minuman apa yang kita inginkan. Tanpa ragu, saya menjawab, "Saya ingin es limun..". Saat itu juga, ia memanggil pelayan dan memesankannya. Sungguh hal yang mengejutkan bagi saya karena ia adalah orang asing yang juga sekaligus sebagai tuan rumah, namun ia tetap menghargai keinginan saya. Tak berapa lama, saya melihat bibi saya memberikan sebuah kotak kecil pada pasangan tersebut. Sebagai orang Asia, saya tidak pernah berpikir bahwa hadiah tersebut akan dibuka langsung sesaat setelah diterima, namun pada kenyataannya, hal itu terjadi.
Mendapati hal aneh itu terjadi, dengan mata melotot saya bertanya kepada ibu saya tentang apa yang terjadi. Namun ibu sayapun tidak mengerti sama sekali. Setelah itu, saya melihat bibi saya pergi ke kamar kecil, saya segera mengikutinya. Tanpa basa-basi, saya bertanya "Kubo (bibi), beneran aku bingung, aneh lho Kubo ini.. Nggak kaya biasanya, nggak nawari aku makan.. Aku laper, terus kayaknya Kubo lho tau aku laper.. Terus juga masalah kado tadi.. Mereka nggak sopan, masa kadonya langsung dibuka?". Sambil mencuci tangannya dia menjawab, "Ini yang namanya perbedaan budaya, Nik.. Wajar kalo kamu ngerasa aneh, soalnya kan ini baru pertama kali toh kamu ketemu orang bule secara langsung.. Pertama, soal makan siang, mereka nggak akan pernah minta kamu buat makan bareng kalo kamu nggak buat janji sama mereka.. Ini juga ada hubungannya sama ketepatan waktu, kamu telat toh datengnya.. Kedua, soal kado itu biasa kalo mereka buka kado padahal orang yang ngasih masih ada di depannya.. Itu buat menunjukkan kalo mereka menghargai kita dan supaya kita tahu perasaan mereka waktu tahu isinya..".
Berdasarkan pengalaman ini, saya dapat mengidentifikasi bahwa beberapa karakteristik penting yang dibutuhkan untuk komunikasi yang sukses adalah dengan cara menghargai, menganalisis, memahami, dan beradaptasi. Jadi, apa yang saya harus lakukan jika saya menghadapi pertemuan antarbudaya adalah, saya harus mencoba untuk menghormati budaya lain seolah-olah budaya itu adalah milik saya sendiri. Jangan menilainya sebagai budaya buruk di awal. Setelah itu saya harus mencoba menganalisisnya agar tidak terjadi salah paham. Berikutnya adalah, mencoba berempati terhadap pelakunya. Yang terakhir tak kalah pentingnya adalah, beradaptasi dengan budaya itu. Itu berarti saya harus menerima dan sadar bahwa ada budaya lain yang juga perlu dihargai. Ini merupakan pelajaran bagi saya bila di lain waktu saya harus mencoba langkah-langkah berikut: membawa orang asing ke dalam percakapan hangat sehingga ketidaknyamanan akan mencair, menanyakan sesuatu tentang budaya mereka (asalkan tidak menyentuh privasi mereka). Langkah tersebut akan menjadi titik awal yang bagus untuk mengenal mereka lebih lanjut. Poin lain dari pembelajaran ini adalah, saya harus berkepribadian terbuka sehingga saya mampu berpikiran secara positif bahkan jika kesan pertama melihat budaya lain tampak tidak begitu baik. Dan yang paling penting, saya harus berusaha memahami keunikan budaya lain dan tidak membandingkannya dengan milik saya.
Langganan:
Komentar (Atom)