Senin, 09 Mei 2011

Uniknya Perbedaan Bahasa di Indonesia


Saat SMP, saya diajak ayah saya untuk menemaninya berbelanja di pusat grosir di Makassar. Tempatnya sangat ramai dan banyak orang yang berjualan macam-macam barang mulai dari baju, celana, sepatu, tas, seprai, dan keperluan lainnya. Karena penjagaan di pusat grosir itu yang tidak ketat, sehingga banyak penjual-penjual yang sebenarnya tidak memiliki izin berjualan, yang berjualan di sana. Saya sangat kaget saat melihat ada orang yang menjual buah-buahan dan ayam di tengah tangga. Sepengetahuan saya, tempat itu hanya menjual pakaian, seragam, tas, seprai, dan semacamnya namun tidak sedikit juga yang menjual barang-barang lain. Saat saya dan ayah saya menuruni tangga, kami terhenti karena di tangga itu sedang terjadi perkelahian antara seorang penjual buah dengan seorang penjual ayam. Untunglah banyak yang ikut membantu melerai mereka sehingga perkelahian tersebut dapat diatasi secepatnya. Saya dan ayah saya mencoba mencari tahu apa penyebab perkelahian itu. Kami bertanya kepada seorang ibu yang juga sempat melihat perkelahian itu dari awal. Kata ibu tersebut, perkelahian berawal dari salah paham karena kedua penjual yang terlibat perkelahian itu berasal dari wilayah dan provinsi yang berbeda, sehingga secara otomatis bahasa mereka pun berbeda. Si penjual buah berasal dari Jawa sedangkan si penjual ayam adalah penduduk asli Makassar. Dalam bahasa makassar khususnya dalam bahasa Bugis, ayam biasa disebut “jangang“. Saat si penjual buah menawarkan buahnya, sang penjual ayam juga menawarkan ayamnya. Penjual buah mengira si penjual ayam melarang orang-orang untuk membeli buahnya karena saat dia berteriak “jeruk manis...jeruk manis”, si penjual ayam juga ikut berteriak “jangang..jangang” sambil melihat ke arah si penjual buah. Sang penjual buah terkejut dan marah karena dia mengira si penjual ayam mengatakan “jangan..jangan” yang maksudnya agar orang-orang jangan membeli buahnya dan dia juga mengira si penjual ayam memandang remeh dirinya. Akan tetapi maksud si penjual ayam bukan begitu, dia hanya ingin menawarkan ayamnya kepada orang-orang yang lewat dengan menggunakan bahasa Bugis, karena sudah kebiasaan orang makassar yang pada umumnya menggunakan bahasa bugis dalam pembicaraan sehari-hari. Si penjual buah langsung mendorong penjual ayam itu dan mereka pun terlibat perkelahian ringan.
Tidak jauh berbeda, saya juga pernah melihat masalah yang sama terjadi saat saya menemani kedua adik sepupu saya yang berumur sekitar 4 tahunan yang sedang bermain. Adik sepupu saya yang satu memang asli Makassar (Sulawesi Selatan), sedangkan yang satunya lagi berasal dari Luwuk (Sulawesi Tengah) yang pada saat itu sedang berkunjung bersama kedua orangtuanya ke Makassar. Meskipun sama-sama berada di pulau Sulawesi, namun bahasa mereka sangat berbeda. Selesai berunding, mereka memutuskan untuk bermain acara ulangtahunan dan meminta saya menyalakan sebuah lilin sebagai lilin kuenya. Saya pun menyalakan sebuah lilin untuk mereka, dan tetap mengawasi mereka. Kemudian mereka sama-sama menyanyikan lagu tiup lilinnya sambil bertepuk tangan. Saya tidak khawatir karena kelihatannya mereka bermain dengan cerianya. Namun keceriaan itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba mereka bertengkar mulut dan tidak akur lagi. Saya segera menenangkan mereka dan mengajak mereka untuk bermain permainan yang lain saja. Penyebab mereka bertengkar adalah karena kedua sepupu saya masing-masing menganggap bahasa mereka yang benar. Dalam bahasa Bugis yang sering digunakan masyarakat Makassar, kata “tiup” sering dibilang “tuip”. Sedangkan di Luwuk, kata “tiup“ tetap dibilang “tiup”. Saat bernyanyi, mereka menyadari kalau penyebutan kata tiup yang diucapkan mereka tidak sama. Oleh karena itu, sepupu saya yang berasal dari Luwuk menyuruh sepupu saya yang satunya untuk sama-sama mengucapkan “tiup” bukan “tuip”, karena tiup adalah bahasa yang benar menurutnya. Sebaliknya, sepupu saya yang asli Makassar, menganggap bahwa “tuip” adalah bahasa yang benar karena dari kecil ia sering mendengar orang-orang di sekelilingnya mengucapkan kata itu. Mereka tidak ada yang mau mengalah, sehingga permainan tersebut tidak menyenangkan lagi.
Dari dua kejadian yang pernah saya alami di atas, saya menjadi semakin mengerti bahwa Indonesia sangat kaya dengan budaya di setiap daerahnya. Saya juga belajar bahwa dengan beragamnya bahasa di Indonesia ini, saya sebaiknya menghargai setiap bahasa di daerah manapun karena setiap daerah memiliki budaya dan aturannya masing-masing yang membuatnya unik dan berbeda dengan yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar