Saya sangat terkejut ketika saya mengalami apa yang disebut pengalaman pertemuan antarbudaya dengan teman-teman bibi saya yang datang dari Jerman pada bulan Januari tahun 2010. Tiba-tiba ibu saya menjemput saya dari sekolah dan kamipun menuju Hotel Tugu. Sesampainya disana, saya mendapati bibi saya dan teman-temannya sedang makan siang bersama-sama. Saya sangat yakin bahwa mereka menyadari kehadiran kami, namun yang mereka lakukan adalah tetap meneruskan makan siang mereka tanpa menawari kami. Bahkan, bibi saya juga melakukan hal yang aneh yang sama, yaitu memilih untuk tidak bertanya apakah kami sudah makan atau belum. Akhirnya dengan perut kelaparan saya hanya duduk diam tidak terlalu jauh dari meja makan. Beberapa saat kemudian, pria German yang bernama Michael bertanya kepada kami tentang minuman apa yang kita inginkan. Tanpa ragu, saya menjawab, "Saya ingin es limun..". Saat itu juga, ia memanggil pelayan dan memesankannya. Sungguh hal yang mengejutkan bagi saya karena ia adalah orang asing yang juga sekaligus sebagai tuan rumah, namun ia tetap menghargai keinginan saya. Tak berapa lama, saya melihat bibi saya memberikan sebuah kotak kecil pada pasangan tersebut. Sebagai orang Asia, saya tidak pernah berpikir bahwa hadiah tersebut akan dibuka langsung sesaat setelah diterima, namun pada kenyataannya, hal itu terjadi.
Mendapati hal aneh itu terjadi, dengan mata melotot saya bertanya kepada ibu saya tentang apa yang terjadi. Namun ibu sayapun tidak mengerti sama sekali. Setelah itu, saya melihat bibi saya pergi ke kamar kecil, saya segera mengikutinya. Tanpa basa-basi, saya bertanya "Kubo (bibi), beneran aku bingung, aneh lho Kubo ini.. Nggak kaya biasanya, nggak nawari aku makan.. Aku laper, terus kayaknya Kubo lho tau aku laper.. Terus juga masalah kado tadi.. Mereka nggak sopan, masa kadonya langsung dibuka?". Sambil mencuci tangannya dia menjawab, "Ini yang namanya perbedaan budaya, Nik.. Wajar kalo kamu ngerasa aneh, soalnya kan ini baru pertama kali toh kamu ketemu orang bule secara langsung.. Pertama, soal makan siang, mereka nggak akan pernah minta kamu buat makan bareng kalo kamu nggak buat janji sama mereka.. Ini juga ada hubungannya sama ketepatan waktu, kamu telat toh datengnya.. Kedua, soal kado itu biasa kalo mereka buka kado padahal orang yang ngasih masih ada di depannya.. Itu buat menunjukkan kalo mereka menghargai kita dan supaya kita tahu perasaan mereka waktu tahu isinya..".
Berdasarkan pengalaman ini, saya dapat mengidentifikasi bahwa beberapa karakteristik penting yang dibutuhkan untuk komunikasi yang sukses adalah dengan cara menghargai, menganalisis, memahami, dan beradaptasi. Jadi, apa yang saya harus lakukan jika saya menghadapi pertemuan antarbudaya adalah, saya harus mencoba untuk menghormati budaya lain seolah-olah budaya itu adalah milik saya sendiri. Jangan menilainya sebagai budaya buruk di awal. Setelah itu saya harus mencoba menganalisisnya agar tidak terjadi salah paham. Berikutnya adalah, mencoba berempati terhadap pelakunya. Yang terakhir tak kalah pentingnya adalah, beradaptasi dengan budaya itu. Itu berarti saya harus menerima dan sadar bahwa ada budaya lain yang juga perlu dihargai. Ini merupakan pelajaran bagi saya bila di lain waktu saya harus mencoba langkah-langkah berikut: membawa orang asing ke dalam percakapan hangat sehingga ketidaknyamanan akan mencair, menanyakan sesuatu tentang budaya mereka (asalkan tidak menyentuh privasi mereka). Langkah tersebut akan menjadi titik awal yang bagus untuk mengenal mereka lebih lanjut. Poin lain dari pembelajaran ini adalah, saya harus berkepribadian terbuka sehingga saya mampu berpikiran secara positif bahkan jika kesan pertama melihat budaya lain tampak tidak begitu baik. Dan yang paling penting, saya harus berusaha memahami keunikan budaya lain dan tidak membandingkannya dengan milik saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar