Sebelum saya terdaftar sebagai mahasiswi angkatan 2010 di Universitas Kristen Petra (UKP), saya telah mengikuti perkuliahan selama 1,5 tahun di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual angkatan 2008. Karena merasa tidak cocok dengan sistem, manajemen, dan program institusi tersebut, saya memutuskan untuk pindah kuliah dan kemudian bergabung di jurusan Sastra Inggris – Universitas Kristen Petra. Tentu saja, perpindahan ini menimbulkan culture shock bagi saya. Bagaimana tidak, ternyata lingkungan kampus jurusan Sastra Inggris UKP sangat berbeda dengan kampus saya sebelumnya (ITS). Dari segala perbedaan signifikan yang ada; semisal kegiatan mahasiswa, hubungan antara dosen dengan mahasiswa, dan suasana pasca orientasi mahasiswa baru; saya ingin berbagi cerita mengenai poin terakhir, yaitu suasana pasca orientasi mahasiswa baru.
Awalnya, saya cukup kaget ketika melihat suasana kampus UKP yang begitu hangat, penuh canda tawa seusai program orientasi mahasiswa baru berakhir. Pada saat itu, terlihat kumpulan mahasiswa senior sedang saling bercanda. Sepertinya mereka sedang mengenang kembali masa semester sebelumnya, mengingat kejadian-kejadian lucu, dan membaginya satu sama lain. Tak jarang pula beberapa dari mereka mencoba mendekati mahasiswa atau mahasiswi baru untuk sekedar berkenalan. Tentunya, suasana seperti ini tidak saya temukan ketika berkuliah di ITS. Anehnya, para senior (angkatan 2006 yang meng-ospek angkatan saya) malah menciptakan suasana yang menegangkan pasca orientasi mahasiswa baru. Mereka kerap memberi tekanan pada mahasiswa baru dengan menyuruh kami menyelesaikan tugas angkatan, dimana waktu itu kami juga telah menerima tugas kuliah yang tak kalah banyaknya. Tak jarang pula, beberapa dari kami ‘disidang khusus’ oleh para senior angkatan 2006 dan 2004 perihal kelanjutan ospek kami yang dinilai gagal.
Setelah melihat perbedaan ini, saya berusaha memahami adanya perbedaan kultur di masing-masing institusi. Kampus ITS sebagai institusi berbasis tehnik tentunya memiliki perbedaan dalam hal visi dan misi dengan kampus UKP sebagai universitas berbasis agama. Dalam hal ini, ITS ingin mencetak lulusan-lulusan yang tangguh dalam situasi apapun (walaupun keadaan yang keras sekalipun); mengingat kuliah tehnik bukan hal yang mudah dan membutuhkan ketelitian serta keuletan yang memadai dalam setiap teknis pengerjaannya. Maka itu, kemungkinan para senior di ITS ingin ’mendidik’ para juniornya agar selalu tangguh dalam kondisi apapun di waktu kedepan, dengan cara memberi tugas angkatan dikala junior juga memiliki tugas kuliah. Sedangkan melihat dari sisi UKP, dimana kampus ini memiliki visi “A Caring and Global University”, sudah pasti kampus ini mengedepankan “kasih” sebagai asas dan amanat dari Tuhan dalam melangsungkan kegiatan-kegiatannya. Setelah ospek, secara tak langsung para mahasiswanya juga ingin membentuk suasana yang tentram dan damai, karena bagi mereka, mengedepankan kasih dengan sesama adalah hal yang penting.
Berkaca dari pengalaman yang saya sebutkan diatas ini, sekarang saya menjadi lebih paham dan bijak dalam memberikan persepsi. Ternyata saya memang harus membaca masalah sampai kedalamnya sehingga mendapatkan sebuah pemahaman internal yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar