Senin, 30 Mei 2011

STEREOTIPE NEGATIF MENIMBULKAN DISKRIMINASI


Dalam konteks stereotip dan diskriminasi ini, saya akan memberi contoh konkret yang pernah terjadi di dalam keluarga saya (lebih tepatnya terjadi pada ayah, kakak dan saya yang pernah merasakannya). Saya tinggal di lingkungan kampung yang padat penduduknya dan sebagian besar adalah masyarakat Jawa atau pribumi. Seperti yang kita tahu bahwa orang-orang pribumi seringkali memiliki stereotip negatif kepada orang-orang keturunan Tionghoa dan sebaliknya. Pada suatu hari tepatnya pada saat akan memperingati HUT Indonesia pada bulan Agustus, kampung saya memiliki acara untuk memperingati 17 Agustusan. Tentu saja untuk menyelenggarakan acara ini membutuhkan dana. Para pengurus wilayah kampung saya datang ke rumah dan meminta ayah saya untuk menjadi donatur dalam acara tersebut. Mereka hanya meminta orang-orang keturunan Tionghoa yang dijadikan donatur. Padahal belum tentu semua orang  Tionghoa di kampung saya adalah orang yang dikategorikan kaya atau memiliki banyak uang. Lalu peristiwa kedua pada saat kerja bakti di kampung. Mereka menilai bahwa orang-orang yang berketurunan Tionghoa tidak akan mau berpartisipasi dalam kerja bakti bersama di kampung, padahal tidak semua orang Tionghoa seperti itu. Pada saat itu ayah saya tidak diberitahu dan tidak diajak untuk ikut kerja bakti di kampung, padahal ayah saya senang sekali jika bisa membantu dan ikut berpartisipasi dalam kerja bakti seperti ini. Namun, karena tidak diberitahu dan tidak diajak, akhirnya ayah saya pun tidak ikut serta dalam kerja bakti tersebut. Dari kejadian ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa, kita hidup di dunia yang multikultural. Oleh sebab itu, stereotip yang bersifat negatif itu seharusnya dihilangkan sehingga tidak sampai terjadi diskriminasi. Sebaliknya, kita sebaiknya bersikap saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar