Pada waktu awal memasuki dunia perkuliahan, saya agak terkejut karena sebagian besar teman saya itu berasal dari suku yang berbeda dari saya. Saya adalah seorang keturunan Chinesse dan teman saya banyak yang berasal dari keturunan pribumi. Jujur saya takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan mereka dan kebiasaan mereka. Dari kecil saya selalu berada di lingkungan atau sekolah yang mayoritas bersuku sama dengan saya jadi saya tidak terlalu punya banyak pengalaman hidup dengan suku lain. Masyarakat sekitar saya pun secara tidak langsung mengajarkan bahwa orang-orang yang berasal dari suku lain itu tidak baik dan pemalas, jadi lebih baik jangan bergaul dengan mereka. Maka dalam otak saya sudah diset bahwa orang dari suku lain itu lebih baik di jauhi. Tapi saat itu saya tidak punya pilihan lain selain mencoba untuk berteman dengan mereka. Seiring berjalannya waktu, saya berteman dengan mereka, mereka adalah teman yang sangat baik dan seru. Pembicaraan kita juga cocok dan mereka bukan pemalas seperti kata orang-orang di sekitar saya. Saya merasa nyaman berteman dengan mereka dan saya juga merasa tidak ada perbedaan diantara kami selain warna kulit dan latar belakang suku kami. Perlahan saya mulai berubah dan merasa tidak ada masalah ketika saya berteman dengan mereka. Persepsi saya mulai berubah karena pengalaman ini.Teman-teman semasa kecil saya, yang memiliki suku yang sama dengan saya pernah berkata dengan nada sinis mengapa saya mau berteman dengan orang pribumi. Saya bisa berubah kaena saya mencoba untuk berteman dengan mereka. Bagi saya itu tidak masalah selama saya berteman dengan orang-orang yang baik dan tidak membawa saya ke kebiasaan yang buruk.
Menurut saya, diskriminasi rasial bisa terjadi karena bawaan dari nenek moyang kita. Dari dulu mereka sudah terdoktrin bahwa ras lain itu lebih buruk dibanding mereka. Hal itu bisa terjadi karena mereka cenderung bergaul hanya dengan ras mereka saja. Mereka tidak pernah mencoba bergaul dengan ras lain atau mungkin juga sekali mereka bergaul degan orang dari ras lain, orang tersebut mengecewakan mereka. Sehingganenek moyang kita beranggapan bahwa ras lain itu tidak baik. Saya juga dulu terpengaruh dengan sekitar saya yang mengatakan hal itu. Jadi saya juga ikut-ikutan menjauhi orang yang berasal dari suku lain. Bahkan di mind set saya, orang dari ras lain itu tidak baik dan tidak perlu di ajak bergaul. Saya merasa pengaruh dari orang lain sangat kuat terutama dari teman teman kecil saya yang berasal dari keluarga China totok. Mereka cenderung memandang rendah orang yang berasal dari ras lain.
Dari kejadian ini saya belajar bahwa sebenarnya perbedaan ras yang ada tidak perlu dibesar-besarkan. Tidak ada yang begitu berbeda, kecuali warna kulit, tipe wajah, dan kebudayaan saja. Kita semua sama saja dan tidak boleh membeda-bedakan perlakuan dengan ras lain. Saya juga belajar dari teman-teman saya yang di dunia kuliah ini, walaupun saya berbeda dri mereka, tapi mereka mau menerima saya. Mereka tidak memandang saya aneh. Maka dari itu, saya juga mulai belajar untuk tidak melihat seseorang dari luarnya saja. Tidak semua “stereotype” yang ada itu benar. Jadi melalui pengalaman saya semenjak saya berkuliah di Universitas Kristen Petra ini saya dapat merubah pandangan saya selama ini mengenai perbedaan ras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar