Selasa, 10 Mei 2011

Perbedaan Budaya Luar Negeri dan Budaya Indonesia dalam Pengasuhan Anak


Dewasa ini antara negara yang satu dengan negara yang lain pasti memiliki perbedaan kebudayaan dan kali ini saya akan memberikan suatu contoh kasus mengenai perbedaan kebudayaan antar negara.

Suatu hari saya beserta dengan keluarga memutuskan untuk berjalan-jalan di salah satu mall di Surabaya dan akhirnya memutuskan untuk makan di salah satu restoran di mall tersebut. Saat menunggu pesanan kami disajikan, saya melihat seorang anak laki – laki kecil berdarah Indonesia asli sedang berlari – larian dan berteriak – teriak berkeliling restoran. Sang ayah yang mungkin merasa bahwa anaknya telah mengganggu pengunjung lain, memanggil anak itu, memarahinya dan mengancam akan memukul anak tersebut jika dia berlari – lari lagi. Anak itu memang diam, tetapi tidak bertahan lama. Sesaat kemudian anak itu kembali bermain – main berkeliling restoran. Tak lama setelah saya dan keluarga selesai menyatap pesanan kami, saya melihat sekeluarga pengunjung berdarah asing datang dan duduk tepat di sebelah meja kami. Keluarga tersebut juga memiliki anak laki – laki yang sepertinya berumur sama dengan anak laki – laki berdarah Indonesia yang suka berlarian. Anak berdarah asing ini juga melakukan hal yang sama dengan anak Indonesia tadi, berlari lari sekitar restoran. Tetapi bedanya, orang tua anak tersebut diam saja dan tidak mengurus anaknya. Saya awalnya berpikir negatif, bahwa orang tua dari negeri asing tidak terlalu memperhatikan anaknya sendiri. Tidak lama kemudian, kepala anak tersebut terbentur meja yang saya tempati akibat berlari – lari. Ayahnya pun mengelus – elus kepala anak itu sambil berkata, “How do you feel heh? Pain right? So, because what you got pain? You can stop your crazy running and sit down with Mom, or you will get more pain. Okay?”. Saya terkejut mendapati anak laki – laki tersebut mengikuti perintah ayahnya tanpa tangisan dan rengekan apapun hanya dengan kata – kata itu. Dari pengalaman ini, saya mendapat pelajaran bahwa setiap orang tua di negara yang berbeda memberikan cara yang berbeda – beda untuk mendidik anak - anaknya.

Orang-tua Indonesia cenderung mendidik anaknya dengan menakuti atau mengancam anaknya jika anaknya melakukan sesuatu yang salah. Mereka juga mendidik anaknya dengan menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Anak – anak juga tidak tahu apa yang harus dilakukan agar mereka tidak terjatuh atau sakit karena orang tua selalu bersikap protektif terhadap anak – anaknya dan selalu menghidarkan anak – anak dari bahaya. Pendidikan ini membuat anak Indonesia menjadi anak yang penurut dan terlindung oleh orang-tua atau bahkan menjadi anak yang pemberontak karena terlalu ketatnya peraturan orang tua.
Sedangkan orang-tua negara Barat mendidik anaknya dengan cara membiarkan anaknya melakukan sesuatu, yang tentunya dengan pengawasan, lalu merefleksikan perilaku mereka sehingga nantinya anaknya dapat mengetahui konsekuensi yang akan mereka dapatkan dalam melakukan sesuatu. Sangat jarang mereka memberikan suatu pukulan atau tamparan pada anak – anaknya sebagai suatu hukuman, melainkan memberikan suatu ‘pengurungan’ sebagai suatu hukuman, seperti mengurung anak tersebut di suatu tempat yang kosong atau menyuruhnya duduk diam, untuk merefleksikan diri atas perilaku yang telah ia lakukan, apakah itu salah atau benar, apa akibat dari perilaku yang telah ia lakukan dan dampaknya bagi orang lain serta bagi dirinya sendiri, apa yang seharusnya dilakukan, dan sebagainya. Setelah memberikan hukuman tersebut, biasanya orang-tua akan mendatangi anaknya, memberi tahu apa yang salah, dampak bagi diri sendiri serta orang lain, dan apa yang seharusnya dilakukan seharusnya, lalu bukannya memukul anak tersebut, tetapi memeluk atau mencium anak tersebut sebagai tanda kasih sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar