Kedua orang tua saya berasal dari dua daerah yang berbeda. Papa saya adalah orang Surabaya asli, sedangkan Mama saya adalah orang Jakarta asli atau bisa dibilang orang betawi asli. Hampir setiap Tahun Baru Imlek, keluarga saya merayakannya di kampung halaman Mama saya, Tangerang, Banten. Biasanya kami menginap di rumah Nenek saya karena pada event inilah semua sanak saudara berkumpul bersama-sama. Terlebih lagi, Kakek saya sudah tiada, jadilah semua sanak keluarga berkumpul di rumah Nenek saya itu. Setiap menjelang Tahun Baru Imlek, Mama saya selalu mengeluh kepada saya tentang sikap Papa saya yang terkesan cuek dengan Nenek saya itu. Mama saya selalu mengeluh karena Papa saya sangat sulit untuk dimintai uang untuk diberikan kepada Nenek saya. Papa saya terkesan tidak memedulikan itu. Mama saya sangat jengkel dengan sikap Papa saya yang seperti itu. Hal itulah yang selalu menjadi masalah ketika Imlek. Sehingga untuk tetap menciptakan kesan sebagai anak dan menantu yang bertanggung jawab, Mama saya sering sekali memakai uang pribadi Mama saya sendiri untuk diberikan kepada Nenek saya atas nama Papa saya.
Selain itu juga ada perbedaan antara orang Jakarta dengan orang Surabaya. Orang Jakarta cenderung lebih royal. Mereka tidak perhitungan saat memberi, tidak hanya uang, kepada sanak saudara ataupun sekitar mereka. Sedangkan orang Surabaya atau yang biasa disebut orang Jawa, cenderung lebih itung-itungan. Mereka tidak seroyal orang Jakarta. Bahkan, Paman saya yang tinggal di Jakarta pun sempat kesal dengan orang Jawa dan berkata bahwa orang Jawa sangat pelit. Pernah terjadi suatu saat, Paman saya yang sedang berlibur ke jawa mengalami masalah dengan mobilnya. Kemudian Paman saya mencari pertolongan dengan meminta bantuan warga sekitar dengan membantu mendorong mobil. Namun tidak ada satupun yang mau mebantu Paman saya tanpa imbalan, berbeda sekali dengan orang Jakarta. Saya menyadari adanya perbedaan dalam merayakan Imlek antara Jakarta dengan Surabaya. Saat saya merayakan Imlek di Tangerang, suasana Imlek benar-benar terasa. Kami mengunjungi rumah sanak saudara bahkan rumah kerabat dan tetangga untuk merayakan Imlek bersama-sama. Sedangkan pernah suatu waktu saya merayakan Imlek di Surabaya. Suasananya sangat berbeda, perayaanya tidak ramai seperti di Jakarta.
Karena perbedaan latar belakang inilah yang menurut saya sering memicu perbedaan-perbedaan yang tak jarang bisa menjadi masalah. Seperti misalnya saat merayakan Tahun Baru Imlek, kebiasaan di dalam keluarga Mama saya adalah setiap anak yang sudah berkeluarga berkewajiban untuk memberi uang sebagai tanda terima kasih kepada orang tua. Bagi sebagian besar orang betawi, tidak masalah jika seorang anak yang sudah berkeluarga tidak memberikan uang di hari-hari biasa. Namun, sudah menjadi keharusan untuk memberi saat Imlek. Namun berbeda dengan keluarga Papa saya. Di dalam keluarga Papa saya, tidak menjadi keharusan untuk memberi saat Imlek, karena setiap anak bisa memberi kapan saja. Tidak ada event yang mengharuskan setiap anak memberikan uang kepada orang tua. Hal itu bisa mereka lakukan kapan pun, tidak perlu menunggu Imlek tiba. Hal itu yang membuat saya berpikir bahwa orang Jawa cenderung terkesan lebih cuek dan lebih menghargai privasi.
Cinthya Elisabeth
11410005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar