Selasa, 10 Mei 2011

Beda Generasi, Beda Cara

                
                Kejadian ini diawali dengan seringnya salah satu teman perempuan kakak saya berkunjung ke rumah saya. Pada awalnya teman kakak saya ini hanya berkunjung di malam hari, lalu akan pulang ketika pagi telah menjelang. Tetapi kebiasaan ini berkembang hingga akhirnya dia berani untuk menginap di rumah saya hampir setiap hari. Memang benar bahwa sebelumnya, rumah saya ini terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung, terutama bagi teman laki-laki kakak saya yang sering berkunjung hanya untuk sekedar bermain game online bersama. Tetapi kebiasaan ini terkesan aneh apabila yang berkunjung adalah wanita, mengingat bahwa kakak saya adalah laki-laki, dan serta tujuannya adalah untuk menginap.
Menurut budaya ibu saya yang memang Jawa tulen, kebiasaan teman perempuan ini sangatlah tercela. Hal ini dikarenakan adat Jawa yang dianut oleh ibu saya ini juga dipengaruhi oleh agama Islam yang didalam peraturannya dituliskan bahwa perempuan dan laki-laki yang belum menikah bukanlah muhrim, dan tak seharusnya tinggal bersama. Hal lain yang membuat ibu saya geram adalah teman kakak saya ini datang pada subuh, sekitar jam tiga pagi, bermain dengan teman laki-laki kakak saya yang lain dan merokok, ketika menjelang pagi ia tidur dan hanya akan bangun ketika siang menjelang. Ketika ia sudah bangun, ia tidak pernah sekalipun memiliki niat untuk sekedar beramah-tamah dengan keluarga saya ataupun untuk membantu pekerjaan rumah seperti menyapu ataupun mengepel. Ibu saya merasa sangat kesal, hingga suatu kali, beliau menyindir teman kakak saya ini dengan ucapan “lha kalo kamu memang orang jawa, kamu seharusnya tahu tata-krama. Apa bapak dan ibu kamu tidak pernah mengajari tata krama di rumahmu?”, mendengar sindiran ibu saya, teman kakak saya ini hanya tersenyum lalu pulang begitu saja.
Dari kejadian ini, saya menyadari bahwa walaupun adat istiadat dan tata karma yang dimiliki oleh ibu saya dan teman perempuan kakak saya ini berasal dari akar yang sama, tetapi dalam hal penyampaian dan penerimaan mereka sebagai timbal balik dari sosialisasi sangatlah berbeda. Ibu saya, yang dibesarkan oleh kakek-nenek saya yang masih sangat kolot, sangat menjunjung tinggi tata krama, sehingga beliaupun juga melakukan hal yang sama terhadap anak-anaknya. Jadi bagi beliau, sudah sepantasnya jika anak perempuan itu tidak keluar malam, tidak merokok, apalagi menginap di rumah teman laki-lakinya. Tetapi mungkin sosialisasi seperti ini  tidak didapatkan oleh teman kakak saya. Bisa saja orang tuanya tidak pernah mensosialisasikan tata karma Jawa kepadanya, sehingga dia tidak sempat mengenal apa itu “tata karma” dan bagaimana menggunakannya. Hal lain yang juga mungkin menjadi penyebab adalah karena keadaan dirumahnya yang memang “broken home”, sehingga hal ini mendorongnya untuk memiliki kecenderungan untuk memberontak. Perbedaan sosialisasi kebudayaan inilah yang menyebabkan perbedaan tata perilaku dan berpikir antara ibu dan teman kakak perempuan saya.
Dari kejadian seperti ini, saya menyadari bahwa dalam berinteraksi dengan orang lain, seorang individu harus memahami latar budaya orang lain itu terlebih dahulu, dan mencoba beradaptasi dengan patokan perilaku dan adat-istiadat yang ada dalam suatu komunitas tersebut. Hal ini memanglah sangat tidak mudah, mengingat bahwa setiap individu memiliki corak kepribadian dan adat yang berbeda, tetapi komunikasi pasti akan berjalan dengan sangat baik apabila seorang individu itu mencoba beradaptasi dengan kebudayaan orang lain apalagi berada di komunitas tersebut, sehingga tidak ada ketimpangan perilaku yang menyebabkan konflik. Selain itu, saya juga menyadari bahwa sosialisasi tata-krama memang harus dipastikan berhasil kepada seorang anak, agar anak itu mampu berperilaku secara baik di lingkungan masyarakat nantinya dan juga mampu untuk mensosialisasikannya kepada orang lain maupun keturunannya kelak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar