Saya mempunyai teman bernama Guido, mahasiswa pertukaran pelajar asal Belanda yang sempat merasakan kuliah di bangku kuliah Universitas Kristen Petra selama 6 bulan tahun 2010 kemarin. Suatu ketika, Guido pernah bercerita dengan saya di sebuah kesempatan senggang di siang hari. Guido memulai ceritanya dengan awalan pada waktu itu, Guido mempunyai acara di apartemennya pukul 6 malam. Dia dengan senang hati mengundang teman-temannya yang tidak hanya berasal dari Belanda tapi juga Indonesia. Ketika teman senegara Guido datang tepat waktu, tidak demikian dengan teman dari Indonesia nya Guido. Mereka datang pukul 8 malam. Hal ini membuat Guido bertanya kepada temannya, “Mengapa kau sampai terlambat 2 jam? Apakah kamu sibuk? ” lalu temannya ini (sebut saja Nikko) menjawab, “Oh tidak. Memang di Indonesia seperti itu. Ketika ada acara santai mereka cenderung untuk datang terlambat”.
Hal ini membuat Guido bingung. Mengapa orang Indonesia menganggap waktu itu tidak penting seperti yang dia kira. Padahal di Belanda waktu adalah segalanya.
Masalah seperti ini sering kita jumpai di Indonesia. Orang Indonesia menganggap enteng masalah waktu. Misalnya ketika ada acara resepsi pernikahan pukul 18.00 kebanyakan dari mereka akan datang pukul 19.00. Contoh lainnya acara ulang tahun di restoran (acara infromal), orang Indonesia kebanyakan akan datang lebih molor dari waktu yang ditentukan. Mengapa? Karena sebagian masyarakat Indonesia menganggap bahwa waktu seperti lingkaran, bulat, sesuatu yang tidak berujung dan akan kembali lagi di keesokan harinya hehingga mereka tidak perlu khawatir akan kehabisan waktu karena besok waktu pasti kembali lagi. Sebaliknya, tidak demikian dengan orang Belanda. Mereka menganggap waktu adalah sesuatu yang precious, sesuatu yang penting, yang menghasilkan sampai ada pepatah “ Waktu adalah Uang “. Pepatah ini hingga kini masih awet hingga sekarang. Tak hanya itu saja, Belanda adalah masyarakat yang mempunyai pikiran satu arah (one straight way), masyarakat yang cenderung tidak berbasa-basi dan spontan dalam hal berbicara dan mengutarakan pendapat tetapi juga dalam hal waktu. Waktu bagi mereka adalah sesuatu yang tidak bisa diulang, hal ini bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya. Sekalinya melintas tidak bisa dan tidak akan ada yang menghentikan. Jadi mereka tidak mempunyai pikiran untuk bermalas-malasan, tidak ada waktu berleha-leha hingga pekerjaan selesai. Mereka terus berpacu dengan waktu. Jika akan menghadiri suatu pertemuan dan merasa tidak akan memenuhi waktu yang ditentukan, mereka akan menelpon pihak yang terkait dan sangat memohon untuk dimaafkan meskipun hanya terlambat 5 menit. Mereka benar-benar menghargai waktu. Jauh dengan Indonesia menganggap waktu sebagai sesuatu yang fleksibel. Dari perbedaan budaya ini membuat saya membiasakan diri untuk on-time setiap harinya dan memberikan saya pengetahuan nantinya jika akan berhadapan dengan orang luar negeri atau biasa disebut bule.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar