Papa saya memiliki teman yang berasal dari Kupang. Suatu hari, mereka sekeluarga berkunjung ke rumah saya. Mereka memiliki satu anak perempuan, sebut saja namanya Lina. Pada waktu mereka baru saja sampai di rumah saya, saya baru saja pulang dari toko roti. Saya membawa sekantong plastik donat dan meletakkannya di kursi. Tiba-tiba, Lina mendekati seplastik donat tersebut dia mencoba untuk membuka dan melihat-lihat plastik makanan itu. Lalu dia juga bertanya “apa ini?” kepada saya. Tentu saja saya merasa agak aneh dengan tingkah lakunya. Padahal sudah terlihat jelas plastik itu berisi makanan karena terlihat dari merknya. Saya sempat bingung dan tidak mengerti mengapa ia bisa menanyakan hal seperti itu. Pada hari lain, sewaktu mereka sekeluarga berkunjung lagi ke rumah saya, Lina juga berani melihat dan membuka-buka tas mama saya dan melihat-lihat isinya tanpa ijin. Selain itu, Lina juga sering masuk kamar saya tanpa ijin, tiba-tiba dia membuka kamar saya dan masuk. Saya sangat terkejut dan bingung akan apa yang ia lakukan. Tidak pernah ada orang lain yang masuk kamar saya tanpa mengetuk pintu dahulu kecuali Mama saya.
Menurut saya, hal itu bisa terjadi karena perbedaan budaya yang ada antara kebudayaan di pulau Jawa dengan kebudayaan di daerah asal mereka. Mungkin di daerah asal mereka, membuka tas orang lain atau masuk ke kamar tanpa ijin adalah sesuatu yg wajar dan tidak dianggap tidak sopan. Orang di daerah kecil biasanya lebih kekeluargaan dan tidak individual, sehingga mungkin mereka menganggap milik teman mereka itu milik mereka juga karena mereka suka berbagi dan tidak terlalu memperdulikan privasi. Berbeda dengan di pulau Jawa, khusunya di kota besar seperti Surabaya, hal itu adalah sesuatu yang tidak wajar dan tidak sopan karena dianggap tidak menghargai privasi orang lain. Jujur saja, keluarga saya pun kadang merasa tidak nyaman dengan sikap anak tersebut. Kami tidak terbiasa dengan tindakan Lina karena di budaya kami, privasi itu sangat penting. Maka dari itu kami sekeluarga pun sangat terkejut ketika pertama kali Lina membuka kamar dan tas tanpa ijin.
Melalui kejadian ini, saya belajar bahwa perbedaan budaya yang ada memang terkadang tidak enak dan bisa menimbulkan konflik. Misalnya saja kejadian yang saya alami itu, bila seandainya saya tidak suka, saya bisa saja marah dan menegur Lina. Hal itu bisa menimbulkan konflik antar budaya. Saya belajar bahwa kita harus mengerti dan menghargai kebudayaan lain. Karena dengan menghargai orang lain, maka orang lain pun akan menghargai kebudayaan kita. Kita harus memiliki empati atau tenggang rasa. Maka dari itu, kita sebagai orang yang tinggal di negara yang memiliki beragam budaya, harus memiliki rasa empati dan menghargai budaya lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar