Ketika saya dan adik saya berada di bangku Sekolah Dasar, khususnya ketika saya menduduki kelas tiga sedangkan adik saya menduduki kelas dua, kami sangat senang berkunjung ke rumah tante kami yang terletak di sebuah kompleks perumahan yang penghuninya kebanyakan adalah penduduk Pribumi atau orang-orang asli Indonesia tanpa ada campuran Tionghoa. Setiap pulang sekolah, saya dan adik saya langsung pergi ke sana di antar oleh ayah kami, dan pulang ke rumah kami sendiri jika hari sudah malam. Kami sering datang ke sana karena banyak sepupu-sepupu yang sama umurnya dengan kami yang tinggal di sana dan juga di kompleks itu banyak anak-anak yang umurnya sebaya dengan kami. Kami sering bermain permainan yang menyenangkan bersama-sama, misalnya bermain masak-masakan, bermain boneka, dan lain-lain. Sering juga kami beramai-ramai menonton film “Power Rangers” di rumah tante saya sambil berteriak-teriak histeris saat si jagoan bertarung dengan para monster. Itulah yang membuat saya dan adik saya senang pergi ke rumah tante saya. Di rumah kami sendiri, kami hanya bermain berdua saja sehingga terasa kurang seru dan kurang ramai. Namun keseruan kami bermain dengan teman-teman sebaya kami itu tidak berlangsung lama, karena ada beberapa dari teman-teman Pribumi kami yang kakaknya melarang mereka untuk berteman dengan saya, adik saya, dan sepupu-sepupuku. Ternyata mereka dilarang bergaul dengan orang-orang yang berasal dari ras Tionghoa. Menurut kakak-kakak mereka, orang-orang campuran Tionghoa berbeda dengan orang-orang asli Indonesia seperti mereka. Bagi mereka, orang-orang Tionghoa adalah orang yang pelit, kikir, sombong, dan harus dijauhi. Mereka menganggap kami berbeda dengan mereka hanya karena pada umumnya orang-orang Tionghoa memiliki kulit yang lebih putih dan mata yang lebih kecil dari mereka. Padahal sebenarnya kami hanya ingin bermain bersama dengan adik-adik mereka dan tidak ingin mencari musuh. Dan juga, kami tidak pernah mencari masalah dengan mereka apalagi dengan keluarga mereka. Semenjak saat itu, saya hanya bermain dengan adik saya dan sepupu-sepupu saya. Teman-teman yang dulu bersahabat dengan kami menjadi sangat berbeda. Mereka yang dulunya ramah dan baik terhadap kami malah sering mengejek dan memusuhi kami. Saat melihat kami, mereka pasti akan berteriak “ Cina Loreng, kalo mati nanti digoreng “. Perkataan itu sangat menyakiti hati kami dan kami sering bertanya kepada orang tua kami, mengapa mereka mengatakan hal yang demikian. Namun, orang tua kami hanya menyuruh kami diam saja dan tidak usah mempedulikan perkataan mereka. Dari dulu sampai sekarang saya tidak mengerti apa maksud dari perkataan mereka tersebut, mungkin hanya mereka saja yang mengetahuinya. Beberapa bulan kemudian, tante saya memutuskan untuk pidah rumah di dekat rumahku. Hal ini membuat saya dan adik saya senang karena kami tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke rumah tante saya untuk bermain dengan sepupu-sepupu kami. Selain itu juga kami tidak akan mendengar lagi ejekan-ejekan dari teman-teman Pribumi kami dahulu.
Selasa, 31 Mei 2011
Senin, 30 Mei 2011
STEREOTIPE NEGATIF MENIMBULKAN DISKRIMINASI
Dalam konteks stereotip dan diskriminasi ini, saya akan memberi contoh konkret yang pernah terjadi di dalam keluarga saya (lebih tepatnya terjadi pada ayah, kakak dan saya yang pernah merasakannya). Saya tinggal di lingkungan kampung yang padat penduduknya dan sebagian besar adalah masyarakat Jawa atau pribumi. Seperti yang kita tahu bahwa orang-orang pribumi seringkali memiliki stereotip negatif kepada orang-orang keturunan Tionghoa dan sebaliknya. Pada suatu hari tepatnya pada saat akan memperingati HUT Indonesia pada bulan Agustus, kampung saya memiliki acara untuk memperingati 17 Agustusan. Tentu saja untuk menyelenggarakan acara ini membutuhkan dana. Para pengurus wilayah kampung saya datang ke rumah dan meminta ayah saya untuk menjadi donatur dalam acara tersebut. Mereka hanya meminta orang-orang keturunan Tionghoa yang dijadikan donatur. Padahal belum tentu semua orang Tionghoa di kampung saya adalah orang yang dikategorikan kaya atau memiliki banyak uang. Lalu peristiwa kedua pada saat kerja bakti di kampung. Mereka menilai bahwa orang-orang yang berketurunan Tionghoa tidak akan mau berpartisipasi dalam kerja bakti bersama di kampung, padahal tidak semua orang Tionghoa seperti itu. Pada saat itu ayah saya tidak diberitahu dan tidak diajak untuk ikut kerja bakti di kampung, padahal ayah saya senang sekali jika bisa membantu dan ikut berpartisipasi dalam kerja bakti seperti ini. Namun, karena tidak diberitahu dan tidak diajak, akhirnya ayah saya pun tidak ikut serta dalam kerja bakti tersebut. Dari kejadian ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa, kita hidup di dunia yang multikultural. Oleh sebab itu, stereotip yang bersifat negatif itu seharusnya dihilangkan sehingga tidak sampai terjadi diskriminasi. Sebaliknya, kita sebaiknya bersikap saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia.
Minggu, 29 Mei 2011
Perbedaan Visi Kampus Berpengaruh pada Kultur Mahasiswanya
Sebelum saya terdaftar sebagai mahasiswi angkatan 2010 di Universitas Kristen Petra (UKP), saya telah mengikuti perkuliahan selama 1,5 tahun di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual angkatan 2008. Karena merasa tidak cocok dengan sistem, manajemen, dan program institusi tersebut, saya memutuskan untuk pindah kuliah dan kemudian bergabung di jurusan Sastra Inggris – Universitas Kristen Petra. Tentu saja, perpindahan ini menimbulkan culture shock bagi saya. Bagaimana tidak, ternyata lingkungan kampus jurusan Sastra Inggris UKP sangat berbeda dengan kampus saya sebelumnya (ITS). Dari segala perbedaan signifikan yang ada; semisal kegiatan mahasiswa, hubungan antara dosen dengan mahasiswa, dan suasana pasca orientasi mahasiswa baru; saya ingin berbagi cerita mengenai poin terakhir, yaitu suasana pasca orientasi mahasiswa baru.
Awalnya, saya cukup kaget ketika melihat suasana kampus UKP yang begitu hangat, penuh canda tawa seusai program orientasi mahasiswa baru berakhir. Pada saat itu, terlihat kumpulan mahasiswa senior sedang saling bercanda. Sepertinya mereka sedang mengenang kembali masa semester sebelumnya, mengingat kejadian-kejadian lucu, dan membaginya satu sama lain. Tak jarang pula beberapa dari mereka mencoba mendekati mahasiswa atau mahasiswi baru untuk sekedar berkenalan. Tentunya, suasana seperti ini tidak saya temukan ketika berkuliah di ITS. Anehnya, para senior (angkatan 2006 yang meng-ospek angkatan saya) malah menciptakan suasana yang menegangkan pasca orientasi mahasiswa baru. Mereka kerap memberi tekanan pada mahasiswa baru dengan menyuruh kami menyelesaikan tugas angkatan, dimana waktu itu kami juga telah menerima tugas kuliah yang tak kalah banyaknya. Tak jarang pula, beberapa dari kami ‘disidang khusus’ oleh para senior angkatan 2006 dan 2004 perihal kelanjutan ospek kami yang dinilai gagal.
Setelah melihat perbedaan ini, saya berusaha memahami adanya perbedaan kultur di masing-masing institusi. Kampus ITS sebagai institusi berbasis tehnik tentunya memiliki perbedaan dalam hal visi dan misi dengan kampus UKP sebagai universitas berbasis agama. Dalam hal ini, ITS ingin mencetak lulusan-lulusan yang tangguh dalam situasi apapun (walaupun keadaan yang keras sekalipun); mengingat kuliah tehnik bukan hal yang mudah dan membutuhkan ketelitian serta keuletan yang memadai dalam setiap teknis pengerjaannya. Maka itu, kemungkinan para senior di ITS ingin ’mendidik’ para juniornya agar selalu tangguh dalam kondisi apapun di waktu kedepan, dengan cara memberi tugas angkatan dikala junior juga memiliki tugas kuliah. Sedangkan melihat dari sisi UKP, dimana kampus ini memiliki visi “A Caring and Global University”, sudah pasti kampus ini mengedepankan “kasih” sebagai asas dan amanat dari Tuhan dalam melangsungkan kegiatan-kegiatannya. Setelah ospek, secara tak langsung para mahasiswanya juga ingin membentuk suasana yang tentram dan damai, karena bagi mereka, mengedepankan kasih dengan sesama adalah hal yang penting.
Berkaca dari pengalaman yang saya sebutkan diatas ini, sekarang saya menjadi lebih paham dan bijak dalam memberikan persepsi. Ternyata saya memang harus membaca masalah sampai kedalamnya sehingga mendapatkan sebuah pemahaman internal yang baik.
Diskriminasi Rasial
Pada waktu awal memasuki dunia perkuliahan, saya agak terkejut karena sebagian besar teman saya itu berasal dari suku yang berbeda dari saya. Saya adalah seorang keturunan Chinesse dan teman saya banyak yang berasal dari keturunan pribumi. Jujur saya takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan mereka dan kebiasaan mereka. Dari kecil saya selalu berada di lingkungan atau sekolah yang mayoritas bersuku sama dengan saya jadi saya tidak terlalu punya banyak pengalaman hidup dengan suku lain. Masyarakat sekitar saya pun secara tidak langsung mengajarkan bahwa orang-orang yang berasal dari suku lain itu tidak baik dan pemalas, jadi lebih baik jangan bergaul dengan mereka. Maka dalam otak saya sudah diset bahwa orang dari suku lain itu lebih baik di jauhi. Tapi saat itu saya tidak punya pilihan lain selain mencoba untuk berteman dengan mereka. Seiring berjalannya waktu, saya berteman dengan mereka, mereka adalah teman yang sangat baik dan seru. Pembicaraan kita juga cocok dan mereka bukan pemalas seperti kata orang-orang di sekitar saya. Saya merasa nyaman berteman dengan mereka dan saya juga merasa tidak ada perbedaan diantara kami selain warna kulit dan latar belakang suku kami. Perlahan saya mulai berubah dan merasa tidak ada masalah ketika saya berteman dengan mereka. Persepsi saya mulai berubah karena pengalaman ini.Teman-teman semasa kecil saya, yang memiliki suku yang sama dengan saya pernah berkata dengan nada sinis mengapa saya mau berteman dengan orang pribumi. Saya bisa berubah kaena saya mencoba untuk berteman dengan mereka. Bagi saya itu tidak masalah selama saya berteman dengan orang-orang yang baik dan tidak membawa saya ke kebiasaan yang buruk.
Menurut saya, diskriminasi rasial bisa terjadi karena bawaan dari nenek moyang kita. Dari dulu mereka sudah terdoktrin bahwa ras lain itu lebih buruk dibanding mereka. Hal itu bisa terjadi karena mereka cenderung bergaul hanya dengan ras mereka saja. Mereka tidak pernah mencoba bergaul dengan ras lain atau mungkin juga sekali mereka bergaul degan orang dari ras lain, orang tersebut mengecewakan mereka. Sehingganenek moyang kita beranggapan bahwa ras lain itu tidak baik. Saya juga dulu terpengaruh dengan sekitar saya yang mengatakan hal itu. Jadi saya juga ikut-ikutan menjauhi orang yang berasal dari suku lain. Bahkan di mind set saya, orang dari ras lain itu tidak baik dan tidak perlu di ajak bergaul. Saya merasa pengaruh dari orang lain sangat kuat terutama dari teman teman kecil saya yang berasal dari keluarga China totok. Mereka cenderung memandang rendah orang yang berasal dari ras lain.
Dari kejadian ini saya belajar bahwa sebenarnya perbedaan ras yang ada tidak perlu dibesar-besarkan. Tidak ada yang begitu berbeda, kecuali warna kulit, tipe wajah, dan kebudayaan saja. Kita semua sama saja dan tidak boleh membeda-bedakan perlakuan dengan ras lain. Saya juga belajar dari teman-teman saya yang di dunia kuliah ini, walaupun saya berbeda dri mereka, tapi mereka mau menerima saya. Mereka tidak memandang saya aneh. Maka dari itu, saya juga mulai belajar untuk tidak melihat seseorang dari luarnya saja. Tidak semua “stereotype” yang ada itu benar. Jadi melalui pengalaman saya semenjak saya berkuliah di Universitas Kristen Petra ini saya dapat merubah pandangan saya selama ini mengenai perbedaan ras.
Langganan:
Postingan (Atom)